Puluhan mahasiswa Universitas
Galuh (Unigal) yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Galuh Menggugat (GMGM),
Sabtu (15/3/2014) pagi melakukan aksi demo di depan kantor Yayasan Pendidikan
Galuh Ciamis (YPGC). Mereka menuntut agar yayasan secepatnya membentuk struktur
pengurus dan pengawas karena saat ini kepengurusan periode 2009-2014 telah
berakhir.
Aksi demo sempat ricuh karena
ada beberapa pendemo yang melakukan aksi bakar ban dan membawa benda tumpul ke
depan kantor yayasan. Karena terus berorasi dan melayangkan beberapa
tuntutan, mahasiswa akhirnya diterima oleh empat pembina Yayasan Pendidikan
Galuh Ciamis antara lain Djuan Ahmad Ashari, Agun Gunanjar Sudarsa, Odjo
Sudjaya Gazali dan Rachlan Wikarta.
Kordinator Aksi, Fuji Muhamad
Rivaldi menegaskan Universitas Galuh atau Yayasan Pendidikan Galuh Ciamis
(YPGC) adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan baik secara persepsi
hukum maupun persepsi sejarah. “Oleh karena itu apapun yang terjadi dengan
eksistensi dan keberadaan YPGC, maka dari sebagai mahasiswa
progresif-revolusioner berkewajiban untuk mengevaluasi dan memberikan dedikasi
berupa pemikiran untuk menjaga keberadaan YPGC agar tetap berada dalam
keseimbangan,” tegasnya.
Namun demikian lanjut Fuji,
realitas yang terjadi beberapa waktu terakhir terkait kevakuman struktur
pengurus dan pengawas membuat manajerial Universitas Galuh menjadi kacau karena
arogansi Rektor yang tidak dibatasi oleh kepengurusan YPGC. Oleh sebab itu
pihaknya menuntut agar segera terbentuk suatu struktur YPGC (pembina, pengurus,
pengawas) yang solid dan memahami situasi Unigal sejak didirikan agar tercipta
kinerja yayasan yang solid sebagai penyelenggara universitas. “Kalau tidak maka
kami akan melakukan aksi demo lebih besar lagi,” tegasnya.
Pihaknya juga menolak segala
bentuk arogansi SGP yang berkapasitas sebagai ketua pembina dalam penunjukan
dan penetapan struktur pembina, pengurus, pengawas yang telah melanggar
anggaran dasar yang tercantum dalam akta notaris YPGC.
“Selain itu kami juga mendesak
ketiga pendiri yang masih eksis yang berstatus pembina pada saat ini untuk
mengadakan rapat pembentukan struktur yayasan yang solid dan mengetahui nilai
sejarah pendirian Unigal sekaligus sebagai suatu penolakan resmi akan arogansi
Ketua Pembina,” ujarnya.
Mahasiswa juga berharap agar
semua orang yang diberikan amanah jabatan struktural dilingkungan Universitas
baik rektor, dekan, Kaprodi, dan jabatan struktural lainnya, yang tidak loyal
dan kooperatif berdasarkan konstitusi YPGC untuk diberhentikan agar eksistensi
dan martabat YPGC tetap terjaga baik di dalam maupun diluar civitas akademika.
Menaggapi hal tersebut Anggota
Pembina YPGC Agun Gunanjar Sudarsa menyatakan setelah periode kepengurusan
yayasan berakhir maka pembina harus melakukan rapat untuk menetapkan
kepungurusan yayasan yang baru.
Agun mengaku selepas dia
mendapat kesempatan menjadi anggota pembina yayasan maka otomatis dirinya
terlibat secara langsung dengan mekanisme yang selama ini berjalan di yayasan.
Dia menuturkan semua pembina
sudah mengikuti rapat di Bandung beberapa waktu lalu dan sepakat saudara Deden
Ruchlia ditunjuk menjadi calon ketua yayasan. “Penunjukan tersebut berdasarkan
pertimbangan tertentu dan diberi mandat penuh untuk menentukan pengurusnya.
Namun yang menjadi persoalan kepengurusan yayasan yang diajukan Deden belum
disetujui oleh pembina,” jelasnya.(Ab@ah=KP-Online
