" Kejujuran,.. Integritas,.. Kerjasama,.. Hirarki, . . Loyalitas,... . . ."ds

Senin, 17 Maret 2014

MAHASISWA UNIGAL MENDEMO YAYASAN

Puluhan mahasiswa Universitas Galuh (Unigal) yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Galuh Menggugat (GMGM), Sabtu (15/3/2014) pagi melakukan aksi demo di depan kantor Yayasan Pendidikan Galuh Ciamis (YPGC). Mereka menuntut agar yayasan secepatnya membentuk struktur pengurus dan pengawas karena saat ini kepengurusan periode 2009-2014 telah berakhir.
Aksi demo sempat ricuh karena ada beberapa pendemo yang mela­kukan aksi bakar ban dan membawa benda tumpul ke depan kantor ya­ya­san. Karena terus berorasi dan me­layangkan beberapa tuntutan, mahasiswa akhirnya diterima oleh empat pembina Yayasan Pendidikan Galuh Ciamis antara lain Djuan Ahmad Ashari, Agun Gunanjar Sudarsa, Odjo Sudjaya Gazali dan Rachlan Wikarta.
Kordinator Aksi, Fuji Muhamad Rivaldi menegaskan Universitas Ga­luh atau Yayasan Pendidikan Galuh Ciamis (YPGC) adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah­kan baik secara persepsi hukum maupun persepsi sejarah. “Oleh karena itu apapun yang terjadi dengan eksistensi dan keberadaan YPGC, maka dari sebagai mahasiswa progresif-revolusioner berkewajiban untuk meng­evaluasi dan memberikan dedikasi berupa pemikiran untuk menjaga keberadaan YPGC agar tetap berada dalam keseimbangan,” tegasnya.
Namun demikian lanjut Fuji, realitas yang terjadi beberapa waktu terakhir terkait kevakuman struktur pengurus dan pengawas membuat manajerial Universitas Galuh menjadi kacau karena arogansi Rektor yang tidak dibatasi oleh kepengurusan YPGC. Oleh sebab itu pihaknya menuntut agar segera terbentuk suatu struktur YPGC (pembina, pengurus, pengawas) yang solid dan memahami situasi Unigal sejak didirikan agar tercipta kinerja yayasan yang solid sebagai penyelenggara universitas. “Kalau tidak maka kami akan mela­kukan aksi demo lebih besar lagi,” tegasnya.
Pihaknya juga menolak segala bentuk arogansi SGP yang berkapasitas sebagai ketua pembina dalam penunjukan dan penetapan struktur pembina, pengurus, pengawas yang telah melanggar anggaran dasar yang tercantum dalam akta notaris YPGC.
“Selain itu kami juga mendesak ketiga pendiri yang masih eksis yang berstatus pembina pada saat ini untuk mengadakan rapat pembentukan struktur yayasan yang solid dan mengetahui nilai sejarah pen­dirian Unigal sekaligus sebagai suatu penolakan resmi akan arogansi Ke­tua Pembina,” ujarnya.
Mahasiswa juga berharap agar semua orang yang diberikan amanah jabatan struktural dilingkungan Uni­versitas baik rektor, dekan, Ka­prodi, dan jabatan struktural lainnya, yang tidak loyal dan kooperatif berda­sarkan konstitusi YPGC untuk diberhentikan agar eksistensi dan martabat YPGC tetap terjaga baik di dalam maupun diluar civitas aka­demika.
Menaggapi hal tersebut Anggota Pembina YPGC Agun Gunanjar Su­darsa menyatakan setelah periode kepengurusan yayasan berakhir ma­ka pembina harus melakukan rapat untuk menetapkan kepungurusan yayasan yang baru.
Agun mengaku selepas dia mendapat kesempatan menjadi anggota pembina yayasan maka otomatis dirinya terlibat secara langsung dengan mekanisme yang selama ini berjalan di yayasan.

Dia menuturkan semua pembina sudah mengikuti rapat di Bandung beberapa waktu lalu dan sepakat saudara Deden Ruchlia ditunjuk menjadi calon ketua yayasan. “Penunjukan ter­sebut berdasarkan pertimbangan tertentu dan diberi mandat penuh untuk menentukan pengurusnya. Namun yang menjadi persoalan kepengurusan yayasan yang diajukan Deden belum disetujui oleh pembina,” jelasnya.(Ab@ah=KP-Online