" Kejujuran,.. Integritas,.. Kerjasama,.. Hirarki, . . Loyalitas,... . . ."ds

Selasa, 11 November 2014

MESKI DIGUYUR HUJAN, PASKIBRA TETAP SEMANGAT KIBARKAN BENDERA MERAH PUTIH


Walau diguyur hujan lebat, apel upacara bendera dalam rang­ka memperingati hari Pah­lawan 10 Nopember di lingkup Pemkab Pangandaran, Senin, (10/11/2014) di alun-alun Pa­rigi Kab. Pangandaran tetap digelar meski tanpa diikuti peserta upacara yang sibuk “ngi­uh­­an” dari hujan.
Pada prosesi apel upacara yang dihadiri Kasdim Ciamis Mayor A Suryana, Penjabat Bu­pati Pangandaran H. End­jang Naffandy dan jajaran pejabat tinggi lingkup Pemkab Pangan­daran tersebut, terlihat hanya Inspektur Upacara (Irup) dan tamu kehormatan yang berada di tenda podium terlindungi hujan. Selain mereka, ada pula Paskibra yang membawakan sekaligus mengibarkan bendera RI merah putih.
Namun, para generasi muda ini tak seperti tamu undangan yang terlindungi dari hujan, mereka dengan semangat jiwa kepahlawan membawa dan me­ngibarkan bendera RI merah putih dengan kondisi hujan yang terus mengucur dari langit Pangandaran.
Usai apel, Komanda Koramil Kalipucang Kapten Inf. Erik Sukmana mengatakan, ber­da­sarkan aturan yang ada bahwa apabila dalam keadaan darurat, upacara peringatan dapat dilakukan seperti saat itu.
“Walaupun tanpa peserta upacara, yang penting ada inspektur dan komandan upacara ser­ta pasukan pengibar ben­de­ra,”ujarnya.
Di tempat yang sama Kepala Sub Bagian Protokoler Setda Kab. Pangandaran Megi R Par­lumi S.Sos, pelaksanaan upacara darurat ini berda­sarkan Undang-Undang protokoler. “Acuannya apabila upacara terpaksa tidak dapat dilaksanakan di lapangan terbuka, pengibaran bendera me­rah putih bisa diganti bendera merah putih yang sudah terpasang di tiang. Tapi kita tetap gelar pengi­bar­an bendera oleh Paskibra meski dalam kondisi hu­jan,”ujarnya.
Ia pun menjelaskan, ber­da­sar­kan UU nomor 9 tahun 2010 ten­tang protokoler pasal 19 yang berbunyi, tata urutan upacara bendera sebagaimana dimaksud pasal 17 huruf a se­ku­rang-kurangnya meliputi, pe­ngibaran bendera negara diiringi dengan lagu kebangsaan In­do­nesia Raya, menghening­kan cipta, pembacaan nas­kah Pan­casila, pembacaan pem­bukaan UUD RI 1945 dan pembacaan doa.
Sementara itu di luar lapangan, sejumlah masyarakat yang menyaksikan apel upacara ter­sebut mangaku salut dengan pasukan pengibar bendera. Mes­­ki memang tugasnya mengibarkan bendera, tetapi para remaja generasi bangsa terlihat tetap semangat mengi­bar­kan bendera merah putih, pa­dahal cuaca saat itu sedang tidak bersahabat.
Sekedar mengingati, peringatan Hari Pahlawan 10 Noepmber yang kerap diperingati rakyat Indonsia untuk mengenang pertempuran sengit di Surabaya 10 Nopember 1945 pasca terbunuhnya Brigjen Mal­aby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada 30 Oktober 1945 di Jembatan Me­rah Sura­baya.
Kematian Mallaby ini me­nyebabkan pihak Inggris ma­rah ke­pada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan peng­ganti Mallaby, Mayor Jen­deral Eric Carden Robert Man­sergh untuk mengeluarkan ulti­matum 10 November 1945 un­tuk meminta pihak Indo­nesia menyerah­kan persenjataan dan meng­hen­tikan perlawanan pa­da tentara AFNEI dan administrasi NICA.
Tetapi ultimatum itu tak di­gu­bris rakyat Indonesia, sehingga terjadilah perang sengit selama sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan ko­lo­nia.( Ab@h**/KPriangan Online )