Mesin pengolahan limah medis
Insenerator milik RSUD Ciamis mubazir. Mesin bantuan dari Kementerian
Kesehatan tersebut tidak dapat digunakan setelah di protes warga sekitar
beberapa tahun kebelakang.
Akibatnya saat ini untuk
pengolahan limbah medis diserahkan ke pihak ketiga dengan biaya yang cukup
besar. Padahal jika alat pengolahan medis tersebut digunakan secara maksimal
bisa memangkas anggaran.
Kepala Tata Usaha RSUD
Ciamis, Masanton Wahyu saat ditemui di ruangannya, Rabu (27/8/2014)
menjelaskan, sekitar tahun 2012 ijin operasi sudah keluar dari BPLH (Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup) dengan dipilih tempat di belakang Istalasi
Pemulasaran Jenazah dengan alasan jauh dari pemukiman, tetapi ditengah jalan
ada pengoperasian berhenti, dengan alasan asap dari alat tersebut mencemari
lingkungan dan rumah warga.
“Padahal pembangunan alat
pengolahan limbah lebih dulu ada dari rumah warga. Posisi bangunan rumah juga
lebih tingi dari cerobong asap.
Dikatakan Anton, protes dari
samapi ada yang melempari alat tersebut jika sedang beroprasi, akhirnya pihak
rumah sakit mengalah untuk menghentikan pengolahan libah, sehingga saat ini
alat tersebut hanya teronggok tak berguna.
Lanjut Anton, sebetulnya alat
pengolahan sampah medis tersebut dapat digunakan kembali dengan memindahakan
alat tersebut, misalnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Handapherang.
Hanya saja pihaknya harus
memilik mobil angkut khusus untuk mengangkut agar limbah B3 khususnya,tidak
tercecer di jalanan.
“Saya yakin jika di
pindahakan ke TPA akan lebih aman, tapi terkendala dengan kendaraan angkut
yang bersetandar untuk limbha B3 masih dimiliki oleh kita, sebab untuk
membawa limbah medis jangan sembarang mobil biasa,” ucap dia.
Jelas Anton, rencana untuk
pemindahan alat pengolahan sudah dibicarakan dengan pimpinan dan bupati, dan
mereka merespon dengan rencana tersebut, tetapi renacana tersebut juga harus
didukung dengan instasi lain seperti Cipta Karya dan BPLH. “Jadi jika sudah
pindah ke TPA dan sudah memiliki kendaraan angkutnya maka bukan hanya bisa
dimanfaatkan oleh RSUD saja tetapi juga oleh Puskesmas, serta bisa sebagai
penarik PAD,” ujarnya.(Ab@h**

