Merasa kurang mendapat
perhatian, masyarakat Kec.lakbok Kab.Ciamis mendesak Pemerintah untuk serius
memperhatikan masyarakat kecamatan lakbok. Selama ini, warga lakbok merasa
dianak tirikan dengan kurangnya sentuhan pembangunan oleh pemerintah Kab.Ciamis.
Pernyataan tersebut
disampaikan Anggota DPRD Ciamis Ir. Suyono, yang juga Ketua Asosiasi Industri
Kecil Menegah (Aikma) Propinsi Jabar. Selama ini kata dia, bantuan dari pemkab
Ciamis jarang mengalir ke kecamatan lakbok baik, baik infrastruktur, ekonomi, pemberdayaan
masyarakat maupun saat bencana banjir.
Di bidang infrastruktrur
lanjut Suyono, masih banyak jalan yang rusak parah dan bertahun-tahun tak
kunjung diperbaiki. Banyak jalan rusak yang rusaknya sudah parah yang belum
pernah diperbaiki, termasuk diantarnaya jalan desa Cintaratu. “Saat bencana
banjir tahun lalu, kami minta bantuan ke pemkab, hasilnya tiap keluarga hanya
diberi empat bungkus mi instan, î ujarnya.
Dibidang Ekonomi, lanjut
Suyono, banyak industri kecil yang jalan ditempat bahkan banyak yang gulung
tikar karena tidak pernah diberdayakan. Pemerintah Kabupaten Ciamis tidak
proaktif membantu industri mikro, kecil menengah (IKM), termasuk untuk sekedar
mendapatkan SIUP, TDI, TDP dan NPWP.
“Alangkah baiknya aparat
terkait jemput bola, datang melihat kondisi industri mikro kecil di Lakbok,
permudah pembuatan SIUP, TDI, TDP dan NPWP, agar mereka bisa mendapatkan
permodalan dari perbankan,” katanya. “Karena kalau mereka harus ke Ciamis butuh
biaya besar hanya untuk melengkapi adminsitrasi,î ujar Suyono menambahkan.
Ironisnya ujar dia, selama ini
warga lakbok mengetahui prsoses pembuatan SIUP, TDI, TDP, NPWP justru dari
pemerintah Kota Banjar melalui pelatihan-pelatihan. Bahkan masyarakat Lakbok
mengetahui cara mendapatkan permodalan, meningkatkan sektor usaha, bahkan akses
perekonomian mayoritas memang ke kota banjar. “Sangat wajar kalau masayarakat
lakbok, lebih merasa menjadi orang Banjar ketimbanhg Ciamis, karena tidak
diperhatikan ujarnya.
Bahkan, kata Suyono dari segi
kultur bisa dilihat sangat kental dengan kultur kota Banjar karena memang dulu
Lakbok termasuk bagian dari kewadanaan Banjar. Namun saat Banjar berpisah dari
kabupaten Ciamis Lakbok tidak diikutsertakan.
“Dari segi akses, demografi,
geografi, budaya, perhatian, memang seharusnya lakbok menjadi bagian dari Kota
Banjar. Tidak mengikutsertakan lakbok ke Banjar saat pemisahan merupakan
kecelakaan sejarah yang harus ditanggung masayarakat lakbok Kata Suyono.
Tidak diikutsertakannya lakbok
ke Kota Banjar, kata Suyono, karena Ciamis masih menginginkan lakbok sebagai
lumbung padi. Padahal lakbok dulu dengan sekarang jauh berbeda, produksi padi
kian merosot karena selalu dilanda banjir.
“Saluran air yang mengairi
pesawahan Lakbok tak pernah diturap (dikeruk)sejak tahun 1960an. Makanya warga
lakbok saat ini kembali ke istilah zaman dulu osok melak tara ngalebok (suka
menanam jarang panen), karena areal pesawahan selalu tergenang banjirî ujarnya.
(E-29).
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar