" Kejujuran,.. Integritas,.. Kerjasama,.. Hirarki, . . Loyalitas,... . . ."ds

Senin, 18 Agustus 2014

WARGA LAKBOK TAK MERASA “URANG” CIAMIS


Merasa kurang mendapat perhatian, masyarakat Kec.lakbok Kab.Ciamis mendesak Pemerintah untuk serius memperhatikan masyarakat kecamatan lakbok. Selama ini, warga lakbok merasa dianak tirikan dengan kurangnya sentuhan pembangunan oleh pemerintah Kab.Ciamis.
Pernyataan tersebut disampaikan Anggota DPRD Ciamis Ir. Suyono, yang juga Ketua Asosiasi Industri Kecil Menegah (Aikma) Propinsi Jabar. Selama ini kata dia, bantuan dari pemkab Ciamis jarang mengalir ke kecamatan lakbok baik, baik infrastruktur, ekonomi, pemberdayaan masyarakat maupun saat bencana banjir.
Di bidang infrastruktrur lanjut Suyono, masih banyak jalan yang rusak parah dan bertahun-tahun tak kunjung diperbaiki. Banyak jalan rusak yang rusaknya sudah parah yang belum pernah diperbaiki, termasuk diantarnaya jalan desa Cintaratu. “Saat bencana banjir tahun lalu, kami minta bantuan ke pemkab, hasilnya tiap keluarga hanya diberi empat bungkus mi instan, î ujarnya.
Dibidang Ekonomi, lanjut Suyono, banyak industri kecil yang jalan ditempat bahkan banyak yang gulung tikar karena tidak pernah diberdayakan. Pemerintah Kabupaten Ciamis tidak proaktif membantu industri mikro, kecil menengah (IKM), termasuk untuk sekedar mendapatkan SIUP, TDI, TDP dan NPWP.
“Alangkah baiknya aparat terkait jemput bola, datang melihat kondisi industri mikro kecil di Lakbok, permudah pembuatan SIUP, TDI, TDP dan NPWP, agar mereka bisa mendapatkan permodalan dari perbankan,” katanya. “Karena kalau mereka harus ke Ciamis butuh biaya besar hanya untuk melengkapi adminsitrasi,î ujar Suyono menambahkan.
Ironisnya ujar dia, selama ini warga lakbok mengetahui prsoses pembuatan SIUP, TDI, TDP, NPWP justru dari pemerintah Kota Banjar melalui pelatihan-pelatihan. Bahkan masyarakat Lakbok mengetahui cara mendapatkan permodalan, meningkatkan sektor usaha, bahkan akses perekonomian mayoritas memang ke kota banjar. “Sangat wajar kalau masayarakat lakbok, lebih merasa menjadi orang Banjar ketimbanhg Ciamis, karena tidak diperhatikan ujarnya.
Bahkan, kata Suyono dari segi kultur bisa dilihat sangat kental dengan kultur kota Banjar karena memang dulu Lakbok termasuk bagian dari kewadanaan Banjar. Namun saat Banjar berpisah dari kabupaten Ciamis Lakbok tidak diikutsertakan.
“Dari segi akses, demografi, geografi, budaya, perhatian, memang seharusnya lakbok menjadi bagian dari Kota Banjar. Tidak mengikutsertakan lakbok ke Banjar saat pemisahan merupakan kecelakaan sejarah yang harus ditanggung masayarakat lakbok Kata Suyono.
Tidak diikutsertakannya lakbok ke Kota Banjar, kata Suyono, karena Ciamis masih menginginkan lakbok sebagai lumbung padi. Padahal lakbok dulu dengan sekarang jauh berbeda, produksi padi kian merosot karena selalu dilanda banjir.
“Saluran air yang mengairi pesawahan Lakbok tak pernah diturap (dikeruk)sejak tahun 1960an. Makanya warga lakbok saat ini kembali ke istilah zaman dulu osok melak tara ngalebok (suka menanam jarang panen), karena areal pesawahan selalu tergenang banjirî ujarnya. (E-29).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar