" Kejujuran,.. Integritas,.. Kerjasama,.. Hirarki, . . Loyalitas,... . . ."ds

Jumat, 31 Oktober 2014

SERIBU ORANG MENARI RONGGENG GUNUNG


Mungkin, ini baru pertama kali di Jawa Barat atau bahkan mungkin di Indonesia sebuah pergelaran penari tradisional kolosal. Ya, di Kabupaten Pangandaran, tepatnya di lapang Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih, Kamis, (30/10/2014) sebanyak 1000 (seribu) orang menari tari tradisional, yakni Ronggeng Gunung.
Acara yang digelar Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pe­muda dan Olah Raga Pemkab Pangandaran dalam rangka Milangkala ke-2 DOB Kabu­paten Pangandaran ini terbi­lang sukses, meski melibatkan 1000 orang masyarakat untuk menari Ronggeng Gu­nung yang merupakan kesenian tradisional khas Pangan­daran.
Penari dari mulai penari profesional, amatiran, birokrat, warga biasa, pengusaha, tokoh, orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki maupun wanita ber­kumpul di lapang. Ada yang memakai baju tradisional, baju biasa, baju batik, baju dinas PNS hingga baju hansip terlibat di dalamnya. Mereka me­nari tari Ronggeng Gunung dengan iringan musik khas tradisional.
Melihat antusiasi ribuan orang yang menari Tari Rong­geng, Pj. Bupati Pangandaran H. Endjang Naffandy pun terdecak kagum. Dalam sambutannya, Endjang mengapresiasi pagelaran ini sebagai salah satu upaya melestarikan seni buhun khas Kabupaten Pa­ngandaran.
“Kesenian khas Kabupaten Pangandaran pernah ada yang mengklaim sebagai kesenian khas daerah mereka. Tetapi se­telah diteliti oleh para ahli, seni Ronggeng Gunung ber­dasarkan historisnya merupakan asli khas kesenian tradisional dari Pangandaran. Makanya, mari kita tunjukan kepada dunia, bahwa Ronggeng Gunung ada­lah warisan nenek moyang kita Pangan­dar­an,”ucap­­nya.
Di tempat sama, Plt. Kepala Didikbudpora H. Nana Ru­haena melalui Kepala Bidang Pemuda dan Olah Raga Dr. Erik mengatakan, kegiatan ko­lo­sal 1000 penyanyi Rong­geng Gunung tujuannya untuk mengenalkan kepada masya­rakat luas, khususnya kepada anak-anak SD dan pelajar agar men­cintai budayanya sendiri sehingga tetap lestari.
“Kegiatan ini untuk membuktikan, bahwa semua kalangan pun bisa menari Ronggeng Gunung yang diturunkan oleh nenek moyang dahulu sampai anak-anak sekarang. Dan kesenian ini merupakan tradisi khas Pangandaran, bukan milik daerah lain,”katanya.
Panitia penyelenggara Drs. Kusnaya menambahkan, ke­giatan ini melibatkan semua elemen masyarakat yang ada di Desa Cikalong. Menurutnya kesenian Ronggeng Gunung ini sudah kaderisasi dari awal sehingga menjadi budaya tradisional dan tidak ada paksaan dari manapun juga.
“Di daerah ini Ronggeng Gunung sudah tumbuh dari hati nurani. Dan seni ini merupakan kesenian interaktif jadi bisa menular bagi yang meng­khayati karena gerakannya riang,”katanya.
Masih dikatakan Kusnaya, sebelumnya perhatian pemerintah masih minim terhadap kelestarikan seni Ronggeng Gunung. Namun setelah terbentuk DOB Kabupaten Pa­ngan­daran, kesenian ini kembali tumbuh dan berkembang bahkan terus dikenalkan ke masyarakat luas agar tetap terjaga dan terpelihara.
“Kami siap mengagendakan setiap bulan menampilkan kesenian ini, asalkan difasilitasi pemerintah seperti sekarang. Dan ini langkah awal kebangkitan Ronggeng Gunung dan kami yakin kedepan akan ber­kembang dengan baik,”tambah Kusnaya.
Pantauan “KP”. selain pergelaran tari Ronggeng Gunung, panitia pun menggelar mempertontonkan tembang Beluk, yakni kesenian tradisional asli Desa Cikalong Kecamatan Si­da­­mulih yang dibawakan oleh Aki Suhin (83) dan Aki Sikun (71). Tembang ini diantaranya kerap didendangkan/dimain­kan kepada anak yang sedang diayun atau tujuh bulanan bayi lahir. Pun diisi dengan pameran masakan khas Cikalong dari Dusun Citem­bong yang diikuti oleh peserta seba­nyak 13 RT di Dusun Citembong.(Ab@h***KP-Online.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar