Mungkin, ini baru pertama kali di Jawa Barat atau bahkan
mungkin di Indonesia sebuah pergelaran penari tradisional kolosal. Ya, di
Kabupaten Pangandaran, tepatnya di lapang Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih,
Kamis, (30/10/2014) sebanyak 1000 (seribu) orang menari tari tradisional, yakni
Ronggeng Gunung.
Acara yang digelar Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda
dan Olah Raga Pemkab Pangandaran dalam rangka Milangkala ke-2 DOB Kabupaten
Pangandaran ini terbilang sukses, meski melibatkan 1000 orang masyarakat untuk
menari Ronggeng Gunung yang merupakan kesenian tradisional khas Pangandaran.
Penari dari mulai penari profesional, amatiran, birokrat,
warga biasa, pengusaha, tokoh, orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki maupun
wanita berkumpul di lapang. Ada yang memakai baju tradisional, baju biasa,
baju batik, baju dinas PNS hingga baju hansip terlibat di dalamnya. Mereka
menari tari Ronggeng Gunung dengan iringan musik khas tradisional.
Melihat antusiasi ribuan orang yang menari Tari
Ronggeng, Pj. Bupati Pangandaran H. Endjang Naffandy pun terdecak kagum. Dalam
sambutannya, Endjang mengapresiasi pagelaran ini sebagai salah satu upaya
melestarikan seni buhun khas Kabupaten Pangandaran.
“Kesenian khas Kabupaten Pangandaran pernah ada yang
mengklaim sebagai kesenian khas daerah mereka. Tetapi setelah diteliti oleh
para ahli, seni Ronggeng Gunung berdasarkan historisnya merupakan asli khas
kesenian tradisional dari Pangandaran. Makanya, mari kita tunjukan kepada
dunia, bahwa Ronggeng Gunung adalah warisan nenek moyang kita
Pangandaran,”ucapnya.
Di tempat sama, Plt. Kepala Didikbudpora H. Nana Ruhaena
melalui Kepala Bidang Pemuda dan Olah Raga Dr. Erik mengatakan, kegiatan
kolosal 1000 penyanyi Ronggeng Gunung tujuannya untuk mengenalkan kepada
masyarakat luas, khususnya kepada anak-anak SD dan pelajar agar mencintai
budayanya sendiri sehingga tetap lestari.
“Kegiatan ini untuk membuktikan, bahwa semua kalangan pun
bisa menari Ronggeng Gunung yang diturunkan oleh nenek moyang dahulu sampai
anak-anak sekarang. Dan kesenian ini merupakan tradisi khas Pangandaran, bukan
milik daerah lain,”katanya.
Panitia penyelenggara Drs. Kusnaya menambahkan, kegiatan
ini melibatkan semua elemen masyarakat yang ada di Desa Cikalong. Menurutnya
kesenian Ronggeng Gunung ini sudah kaderisasi dari awal sehingga menjadi budaya
tradisional dan tidak ada paksaan dari manapun juga.
“Di daerah ini Ronggeng Gunung sudah tumbuh dari hati
nurani. Dan seni ini merupakan kesenian interaktif jadi bisa menular bagi yang
mengkhayati karena gerakannya riang,”katanya.
Masih dikatakan Kusnaya, sebelumnya perhatian pemerintah
masih minim terhadap kelestarikan seni Ronggeng Gunung. Namun setelah terbentuk
DOB Kabupaten Pangandaran, kesenian ini kembali tumbuh dan berkembang bahkan
terus dikenalkan ke masyarakat luas agar tetap terjaga dan terpelihara.
“Kami siap mengagendakan setiap bulan menampilkan
kesenian ini, asalkan difasilitasi pemerintah seperti sekarang. Dan ini langkah
awal kebangkitan Ronggeng Gunung dan kami yakin kedepan akan berkembang dengan
baik,”tambah Kusnaya.
Pantauan “KP”. selain pergelaran tari Ronggeng Gunung,
panitia pun menggelar mempertontonkan tembang Beluk, yakni kesenian tradisional
asli Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih yang dibawakan oleh Aki Suhin (83)
dan Aki Sikun (71). Tembang ini diantaranya kerap didendangkan/dimainkan
kepada anak yang sedang diayun atau tujuh bulanan bayi lahir. Pun diisi dengan
pameran masakan khas Cikalong dari Dusun Citembong yang diikuti oleh peserta
sebanyak 13 RT di Dusun Citembong.(Ab@h***KP-Online.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar