" Kejujuran,.. Integritas,.. Kerjasama,.. Hirarki, . . Loyalitas,... . . ."ds

Jumat, 31 Oktober 2014

SERIBU ORANG MENARI RONGGENG GUNUNG


Mungkin, ini baru pertama kali di Jawa Barat atau bahkan mungkin di Indonesia sebuah pergelaran penari tradisional kolosal. Ya, di Kabupaten Pangandaran, tepatnya di lapang Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih, Kamis, (30/10/2014) sebanyak 1000 (seribu) orang menari tari tradisional, yakni Ronggeng Gunung.
Acara yang digelar Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pe­muda dan Olah Raga Pemkab Pangandaran dalam rangka Milangkala ke-2 DOB Kabu­paten Pangandaran ini terbi­lang sukses, meski melibatkan 1000 orang masyarakat untuk menari Ronggeng Gu­nung yang merupakan kesenian tradisional khas Pangan­daran.
Penari dari mulai penari profesional, amatiran, birokrat, warga biasa, pengusaha, tokoh, orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki maupun wanita ber­kumpul di lapang. Ada yang memakai baju tradisional, baju biasa, baju batik, baju dinas PNS hingga baju hansip terlibat di dalamnya. Mereka me­nari tari Ronggeng Gunung dengan iringan musik khas tradisional.
Melihat antusiasi ribuan orang yang menari Tari Rong­geng, Pj. Bupati Pangandaran H. Endjang Naffandy pun terdecak kagum. Dalam sambutannya, Endjang mengapresiasi pagelaran ini sebagai salah satu upaya melestarikan seni buhun khas Kabupaten Pa­ngandaran.
“Kesenian khas Kabupaten Pangandaran pernah ada yang mengklaim sebagai kesenian khas daerah mereka. Tetapi se­telah diteliti oleh para ahli, seni Ronggeng Gunung ber­dasarkan historisnya merupakan asli khas kesenian tradisional dari Pangandaran. Makanya, mari kita tunjukan kepada dunia, bahwa Ronggeng Gunung ada­lah warisan nenek moyang kita Pangan­dar­an,”ucap­­nya.
Di tempat sama, Plt. Kepala Didikbudpora H. Nana Ru­haena melalui Kepala Bidang Pemuda dan Olah Raga Dr. Erik mengatakan, kegiatan ko­lo­sal 1000 penyanyi Rong­geng Gunung tujuannya untuk mengenalkan kepada masya­rakat luas, khususnya kepada anak-anak SD dan pelajar agar men­cintai budayanya sendiri sehingga tetap lestari.
“Kegiatan ini untuk membuktikan, bahwa semua kalangan pun bisa menari Ronggeng Gunung yang diturunkan oleh nenek moyang dahulu sampai anak-anak sekarang. Dan kesenian ini merupakan tradisi khas Pangandaran, bukan milik daerah lain,”katanya.
Panitia penyelenggara Drs. Kusnaya menambahkan, ke­giatan ini melibatkan semua elemen masyarakat yang ada di Desa Cikalong. Menurutnya kesenian Ronggeng Gunung ini sudah kaderisasi dari awal sehingga menjadi budaya tradisional dan tidak ada paksaan dari manapun juga.
“Di daerah ini Ronggeng Gunung sudah tumbuh dari hati nurani. Dan seni ini merupakan kesenian interaktif jadi bisa menular bagi yang meng­khayati karena gerakannya riang,”katanya.
Masih dikatakan Kusnaya, sebelumnya perhatian pemerintah masih minim terhadap kelestarikan seni Ronggeng Gunung. Namun setelah terbentuk DOB Kabupaten Pa­ngan­daran, kesenian ini kembali tumbuh dan berkembang bahkan terus dikenalkan ke masyarakat luas agar tetap terjaga dan terpelihara.
“Kami siap mengagendakan setiap bulan menampilkan kesenian ini, asalkan difasilitasi pemerintah seperti sekarang. Dan ini langkah awal kebangkitan Ronggeng Gunung dan kami yakin kedepan akan ber­kembang dengan baik,”tambah Kusnaya.
Pantauan “KP”. selain pergelaran tari Ronggeng Gunung, panitia pun menggelar mempertontonkan tembang Beluk, yakni kesenian tradisional asli Desa Cikalong Kecamatan Si­da­­mulih yang dibawakan oleh Aki Suhin (83) dan Aki Sikun (71). Tembang ini diantaranya kerap didendangkan/dimain­kan kepada anak yang sedang diayun atau tujuh bulanan bayi lahir. Pun diisi dengan pameran masakan khas Cikalong dari Dusun Citem­bong yang diikuti oleh peserta seba­nyak 13 RT di Dusun Citembong.(Ab@h***KP-Online.

Kamis, 30 Oktober 2014

Warga Pangandaran Akan Gelar Pesta Rakyat Sambut Menteri Susi

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dijadwalkan datang ke Pangandaran, Jumat (31/10/2014). Warga Pangandaran dan sekitarnya mengaku telah menyiapkan sebuah agenda penyambutan putri daerahnya itu.
Untuk mempersiapkannya, sebuah panitia dibentuk, Rabu (29/10/2014) dini hari. Panitia ini diketuai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Ciamis sekaligus Wakil Bupati Ciamis, Jeje Wiradinata.
"Ya, betul saya ditunjuk oleh warga sekitar dan para tokoh masyarakat untuk menjadi ketua panitia penyambutan Ibu Susi saat nanti datang ke sini. Rencananya diagendakan Bu Susi akan datang ke Pangandaran Jumat besok. Bu Susi mendarat di Pangandaran dijadwalkan akan tiba sekitar pukul 15.00 atau 16.00 WIB,” kata Jeje saat dihubungi, Kamis (30/10/2014) siang.
Jeje menuturkan, acara penyambutan akan diawali dengan sambutan meriah oleh warga di sebuah landasan di sekitar Pantai Pangandaran saat Susi mendarat dengan pesawat miliknya.
Sementara itu, keesokan harinya, Sabtu (1/11/2014), akan digelar berbagai pergelaran budaya dan seni oleh masyarakat sekitar sampai siang hari.
Setelah itu akan dilanjutkan dengan pertemuan antara nelayan dan ibu menteri tersebut untuk membahas berbagai persoalan terkait nelayan dan kelautan lainnya.
"Sabtu akan ada seperti pesta rakyat untuk acara penyambutan Bu Susi. Ini dilakukan sebagai rasa syukur dan kebanggaan kami selaku nelayan, warga, dan tokoh masyarakat atas terpilihnya Bu Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Kerja Jokowi-JK," ujar wakil kepala daerah asal PDI-P tersebut.
Tak berhenti di sana, lanjut Jeje, akan digelar pesta rakyat yang menyuguhkan kreasi seni wayang golek sebagai suguhan bagi rakyat setempat pada malam hari.
"Setelah siang sampai sore pada Sabtunya beres, malam harinya akan digelar wayang golek untuk masyarakat di sini,” tambah Jeje.
Diberitakan sebelumnya, Susi Pudjiastuti yang baru dilantik menjadi salah satu menteri di Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla menjadi perbincangan hangat semua kalangan saat ini, mulai dari masalah pendidikannya yang hanya lulusan SMP, gayanya yang nyentrik dan ceplas-ceplos, tato di tubuhnya, kebiasaan merokok, sampai isu perusahaan bangkrut.
Namun, tak sedikit pula yang memujinya akibat kecerdasan dan kesuksesan dalam berbisnis, pekerja keras, dan mampu menunjukkan kemandiriannya. Kesuksesan Susi merupakan hasil kerja kerasnya selama belasan tahun belakangan ini.
Setiap tahunnya tercatat bahwa Susi Air mampu membeli pesawat baru yang harganya puluhan miliar sebanyak enam unit. Bahkan, sampai sekarang pesawat yang dimiliki Susi Air hampir mencapai + 80 unit yang beroperasi hampir di seluruh kawasan Indonesia.

 Alasan Joko Wi menunjuk Susi Pudjiastuti

Jokowi menilai, pengusaha sekaligus pemilik PT ASI Pudjiastuti Marine Product itu sebagai pekerja keras.
“Dia adalah wirausahawati, pekerja keras, mulai dari nol,” ujar Presiden Jokowi saat mengumumkan nama-nama menterinya di Istana Negara, Jakarta, Minggu 26 Oktober 2014.
Kata Jokowi, banyak terobosan yang dilakukan Susi selama bergelut dengan usahanya. “Beliau memulai usaha dari jualan ikan. Dan saya meyakini beliau bakal terobosan di bidang kelautan dan perikanan,” kata Jokowi.
Susi Pudjiastuti lahir di Pangandaran, 15 Januari 1965 (49 tahun). Dia adalah pengusaha pemilik dan Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation, atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat.
Hingga awal 2012, Susi Air diketahui memiliki 46 pesawat dengan berbagai tipe seperti Cessna Grand Caravan, Pilatus PC-06 Porter dan Piaggio P180 Avanti.
Susi Air mempekerjakan 179 pilot, dengan 175 di antaranya merupakan pilot asing. 2012, Susi Air menerima pendapatan Rp300 Miliar dan melayani 200 penerbangan perintis.
Meski tak tamat Sekolah Menengah Atas, Susi ternyata menerima banyak penghargaan antara lain Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia.
Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award 2009 dari PT Exelcomindo. Kemudian, pada 2008, ia mengembangkan bisnis aviasinya dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School.( Ab@h**.

Senin, 27 Oktober 2014

Nyi Raspi: Ronggeng Gunung Sudah Dikenal Sebagai Seni Budaya Ciamis


Munculnya saling klaim antara Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Pangandaran terkait Seni Tari Ronggeng Gunung, tampaknya mendapat perhatian dari sang maestoro Ronggeng Gunung, asal Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Nyi Raspi.
Saat ditemui HR, Selasa (21/10/2014), di Sanggar Seni Ronggeng Gunung ‘Panggugah Rasa’, di Dusun Cikukang RT 13/RW 03, Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, sang maestro Nyi Raspi, mengaku prihatin dengan munculnya polemik tersebut.
Menurut Raspi, pihak pemerintah tidak perlu terjebak oleh asal muasal Ronggeng Gunung berasal dari mana, mestinya semua pihak sepakat untuk bersama-sama melestarikan seni budaya warisan Kerajaan Galuh ini.
Raspi mengakui bahwa seni budaya Ronggeng Gunung awal berkembangnya di daerah Pangandaran.Menurutnya, seni budaya ini dikisahkan dari cerita istri Kerajaan Pananjung yang bernama Siti Dewi Samboja yang menciptakan sebuahtarian di Gua Rengganis, Pangandaran, pada abad ke 16.
Waktu itu, Raspi mengisahkan, Siti Dewa Samboja yang merupakan keturunan Raja Galuh menyamar menjadi seorang penari untuk mencari pembunuh suaminya yang sebelumnya dibunuh oleh Bajo (Bajak laut) yang datang dari Nusakambangan. “Menurut guru saya seperti itu ceritanya,” katanya.
Meski demikan, lanjut Raspi, saat seni budaya ini berkembang pesat, waktu itu daerah Padaherang yang menjadi tempat awal dirinya mengenal Ronggeng Gunung masih menjadi bagian wilayah Kabupaten Ciamis.
Seiring berputarnya waktu, lanjut Raspi, seni tari Ronggeng Gunung pun kemudian berkembang pesat di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis.
“Saya berlatih Ronggeng Gunung pada tahun 70-an memang belajar dari Embah Maja Kabun dikampung Jublek, Desa Panyutran,Kecamatan Padaherang. Dan waktu itu daerah Padaherang masih bagian dari Kabupaten Ciamis,”katanya.
Apa lagi, lanjut Raspi, di tingkat Provinsi pun seni tari Ronggeng Gunung terkenal dan terdaftarmilik Kabupaten Ciamis. “Kayanya susah ya, Ronggeng Gunung sudah melekat dan terkenal dimana-mana sebagai seni budaya Ciamis,” ujarnya.
Namun demikian, lanjut Raspi, dirinya tidak mempusingkan soal saling klaim tersebut. Dia hanya berharap, Ronggeng Gunung bisa terus dilestarikan oleh generasi muda dan jangan sampai punah. “Kalau saya mah berharap Ronggeng Gunung tetap dilestarikan dan dijaga oleh genarasi penerus. Urusan saling klaim, itu urusan pemerintah, saya tidak mau ambil pusing,” ungkapnya.
Di tempat terpisah, Tokoh Masyarakat Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Sardji, mengatakan, meski catatan sejarah menyebutkan Ronggeng Gunung asal muasalnya dari Gua Rengganis Pangandaran, namun sulit dipisahkan dari Kabupaten Ciamis.
Menurut Sardji, selain titik awal Cerita Siti Dewi Samboja merupakan rangkaian sejarah Kerajaan Galuh, juga seni budaya Ronggeng Gunung ini sudah terlanjur dikenal milik Kabupaten Ciamis.
Apalagi, lanjut Sardji, Sanggar seni Ronggeng Gunung yang sudahdikenal di tingkat Provinsi dan Nasional adalah Sanggar ‘Panggugah Rasa’ yang dipimpin oleh Nyi Raspi yang berlokasi di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis.
“Bahkan, Sanggar Ronggeng Gunung Gunung pimpinan Nyi Raspi ini diresmikan oleh Gubernur Jabar pada tahun 2010 lalu. Jadi, jika Pangandaran ingin mengambil Rongeng Gunung, tampaknya sulit. Karena seni ini terlanjut berkembang pesat di Kecamatan Banjasari, bukan di daerah Kabupaten Pangandaran,” pungkasnya. (Ab@h**Andri/Koran-HR)

Jumat, 24 Oktober 2014

Perlintasan Kereta Api di Cibitunghilir Ciamis Perlu Dipasangi Pintu


Perlintasan Kereta Api (KA) yang berada di Lingkungan Cibitunghilir, Kelurahan Kertasari, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tak memiliki palang pintu. Hal itu membuat para pengendara yang ingin melintasinya merasa khawatir.
Endik (50), warga Kelurahan Kertasari, pekan lalu, mengatakan, jalur tersebut merupakan akses jalan yang seringkali dilewati warga. Warga terpaksa harus ekstra hati-hati, menoleh kiri dan kanan ketika ingin melewati perlintasan kereta api tersebut.
Diakui Endik, meski sudah dipasangi rambu-rambu peringatan, tapi banyak pengguna jalan yang tidak mematuhinya. Selain itu, sampai saat ini belum ada relawan yang bersedia menjadi petugas di perlintasaan KA tersebut.
Pada kesempatan itu, Endik menilai, bila kondisi perlintasan KA itu dibiarkan tidak berpalang pintu, dia khawatir akan menimbulkan korban jiwa. Pasalnya, kadang pengguna jalan tidak dapat mengetahui kapan KA akan melintasi jalur tersebut.
Sependapat dengan itu, Asep, warga Ciamis, mengungkapkan, demi menjaga keselamatan warga dan meminimalisir terjadinya kecelakaan, selain dipasangi pintu perlintasan, sebaiknya pemerintah meminta PT. KAI untuk memasang jadwal kereta api yang akan melintas, supaya warga dapat mengetahuinya.
Asep menjelaskan, palang pintu sebenarnya bukan diperuntukan bagi pengendara agar tidak bisa melewati lintasan saat kereta api melewati jalan itu. Namun keberadaan palang pintu itu tujuannya untuk mengamankan perjalanan kereta api dari arus lalu lintas.
“Bagi orang awam, keberadaan palang pintu merupakan penghalang laju kendaraan saat kereta api lewat. Padahal yang sebenarnya bukan itu. Tapi palang pintu fungsinya sebagai pengamanan perjalanan Kereta Api, sehingga bila ada yang nekad menerobos itu merupakan kesalahan fatal,” pngkasnya. (Ab@h**= Her/Koran-HR)

Kamis, 23 Oktober 2014

Pencuri Kambing di Cisaga Ciamis Babak Belur Dihajar Massa


Komplotan pencuri kambing babak belur dihajar warga, di dusun Noong, Desa Sukahurip, Ke. Cisaga, Kab. Ciamis, Rabu, (22/10/2014).
Aksi komplotan tersebut sempat berusaha mengecoh warga dengan membakar gubuk dan saung sawah, untuk memuluskan aksi pencurian ternak warga setempat.
Dari kelima orang pencuri, empat diantaranya berhasil ditangkap warga diantaranya, Nan (19), EK (23), AG (24), dan Her (25). Satu orang pelaku sekaligus diduga otak dari komplotan tersebut Man alias Abah, belum berhasil tertangkap. Kompoltan tersebut tercatat sebagai warga Bandung.
Asep Rusnandang (45), pemilik kambing yang dicuri komplotan tersebut menuturkan kepada HR Online, saat itu kambingnya berada di kandang dan terdengar gaduh.
“Dikira mau melahrikan, karena ada satu yang bunting. Namun saat dilihat ke kandang, ternyata dari 12 ekor hanya ada 8 ekor,” tuturnya.
Setelah diperiksa, ternyata didekat kandang terlihat ada jejak kaki mengarah ke perkebunan karet. Asep pun segera memberitahu warga untuk mengejarnya.
“Dalam pengejaran ditemukan satu ekor kambing di kebun karet. Setelah dicari lagi, kami menemukan 3 ekor lainnya,” jelasnya.
Setelah menemukan semua kambing yang sempat raib dikandangnya, Asep kemudian menriaki komplotan tersebut. Tak berselang lama warga lainnya berdatangan dan mengepung lokasi tersebut.
Pengepungan berhasil menangkap satu orang pelaku, dan dihajar massa. Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 03.00 WIB. Beruntung petugas kepolisian segera datang ke lokasi kejadian dan mengamankan pelaku.
Rasa penasaran warga atas tertangkapnya satu orang pelaku, akhirnya mereka menyusuri perkebunan karet. Selang beberapa jam, petugas Polsek Cisaga berhasil membekuk 3 kawanan lainnya.
Ketiganya ditemukan di daerah Batu Bangkong, Desa Bangunharja. Dan petugas segera mengamankan ketiganya menghindari amukan massa.
Salah seorang warga, Toni (28), mengaku kesal dengan ulah mereka. Kemungkinan pelaku sudah sering melakukan aksinya, karena warga sering kali kehilangan hewan ternak.
Keempat pencuri kambing itu, kini mendekam di tahanan Polsek Cisaga guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. (Abah**/Hermanto=HR-Online)

Selasa, 21 Oktober 2014

XENIA HANTAM ERTIGA


Diduga tidak mengetahui medan jalan, mobil Xenia bernopol DA 8775 AQ, yang dikemudikan Hermani, warga Purwokerto, menghantam mobil Suzuki Ertiga Nopol Z 1384 WP, milk Endik, warga Kertasari Ciamis, Senin ( 20/10/2014), pukul 12.15 WIB, di jalan raya Ciamis-Kawali, Km 5 betulan blok Alinayin Desa Jelat Kecamatan Baregbeg. Akibat tabrakan itu kedua mobil mengalami rusak parah. Sopir Suzuki Ertiga, Mumu mengatakan waktu itu dirinya pulang dari Cikijing, menghadiri resepsi pernikahaan kerabatnya, pas di tikungan TKP mobil yang dikemudikanya dihantam mobil dari arah Ciamis. Sementara Hermani, mengaku, sebelum terjadi kecelakaan dirinya bersama isrtri berangkat dari Purwokerto dengan tujuan akan ke Kawali berkunjung ke saudaranya. “Kami tidak tahu medan karena baru pertama kali ini lewat jalur Kawali. Dari Purwokerto hingga Ciamis kota, tidak ada masalah, tetapi pas masuk Kawali banyak tikungan tajam, mobil kami tekor, “ ujarnya .Ab@h**/Koran PR

Kamis, 16 Oktober 2014

Motor Siswa SMK Al Manar Ciamis Diembat Maling

Sebuah motor jenis Honda Beat (Matic) milik siswa SMA Al Manar, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, hilang digondol maling, di halaman sekolah, Rabu (15/10/2014) siang. Peristiwa hilangnya motor itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 9 pagi, atau saat suasana sekolah tengah sibuk dengan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Kepala SMK Al Manar, Lusi, Rabu (15/10/2014), membenarkan peristiwa hilangnya motor milik salah satu siswanya itu. Menurut dia, kejadian itu kali pertama terjadi di sekolahnya.
“Kejadiannya saat jam belajar. Seperti biasanya, kendaraan siswa  diparkir di halaman sekolah,” katanya.
Angri, pemilik motor, mengungkapkan, motor miliknya yang hilang itu masih baru, karena baru keluar dari dealer. Bahkan, plat nomor kendaraan itupun belum keluar.
Setelah mengetahui motor itu hilang, Angri langsung memberitahu kedua orang tuanya, kemudian ditindaklanjuti dengan melapor ke pihak kepolisian setempat.


Hilangnya motor Honda Beat milik siswa kelas satu SMK Al Manar, di Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Rabu (15/10/2014) siang, pertama kali diketahui oleh Ai, pemilik kantin sekolah. Awalnya, Ai mengaku curiga kepada orang yang duduk di kantinnya saat itu.
“Saat berada di warung, orang itu terlihat mencurigakan. Diapun melakukan kontak dengan seseorang melalui handphone,” katanya, usai kejadian. [Berita terkait baca: Diparkir di Sekolah, Motor Siswa SMK Al Manar Ciamis Diembat Maling]
Ai menjelaskan, dari pembicaraan yang dia dengar, orang itu berpura-pura bertanya kepada seseorang mengenai lokasi disimpannya motor tersebut. Rupanya cara itu merupakan modus baru untuk mengelabui orang yang melihat si maling tengah beraksi.
“Neng ieu aa di sakola. Ari motorna palih mana. Oh muhun, ku aa dicandak, diantosan dipayun nya,” ucap Ai menirukan perkataan orang yang dia curigai.
Menurut Ai, ciri-ciri orang yang membawa motor milik Angri, diantaranya menggunakan sweater berwarna biru dan rambut berwarna merah.
Kepada HR, Ai mengaku sempat meneriaki orang itu maling. Orang itu kemudian dikejar sejumlah siswa, tapi tidak berhasil ditangkap.
Paska kejadian itu, kata Ai, sebuah motor matic yang berada di areal pakir juga ditemukan mengalami kerusakan di bagian kunci kontak.
“Kondisnya rusak, seperti dirusak menggunakan kunci T,” pungkasnya.
Menindaklanjuti hilangnya motor Honda Beat (Matic) di lingkungan sekolah, kini pihak sekolah berencana memperketat penjagaan dan pengawasan kendaraan milik para siswa.

Kepala SMA Al Manar, Lusi, Rabu (15/10/2014), membenarkan rencana pengetatan pengawasan dan penjagaan ktersebut. Hal itu sebagai tindaklanjut atas peristiwa yang baru pertama kali terjadi di sekolah itu.( Ab@h**/HR-Online.

Rabu, 15 Oktober 2014

Pemkab Ciamis Bangun Jembatan Penghubung ke Wilayah Kuningan

Pemerintah Kabupaten Ciamis, menyusul kini sedang membangun sebuah jembatan permanen untuk menghubungkan akses transportasi mobil dan sepeda motor dari wilayah Ciamis ke Kabupaten Kuningan.
Bersamaan dengan itu, Pemkab Kuningan saat ini juga sedang membangun jalan baru di wilayahnya yang tersabungkan langsung ke jembatan tersebut.
Lokasi pembangunan jembatan dan jalan baru tersebut terdapat di sekitar Blok Leuwi Kasba aliran Sungai Cijolang di titik perbatasan antara Dusun Bojong, Desa Bangunjaya, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, dengan Desa Dadiharja, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis.
Titik perbatasan dua wilayah kabupaten yang sedang disambungkan kedau proyek tersebut, dalam peta wilayah Kabupaten Kuningan terdapat di tepi garis perbatasan wilayah selatan Kuningan berjarak sekitar 60 Kilometer dari ibukota Kabupaten Kuningan.
"Pembangunan jembatan dan jalan baru ini semuanya dibiayai dari Bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bantuan dana dari Pemprov Jabar untuk kedua proyek ini, merupakan buah adanya kerjasama antara daerah perbatasan, yang kini telah terikat dalam wadah Badan Kerjasama Antar Daerah Kunci Bersama," ujar Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga, Kabupaten Kuningan Apep Kusmara, yang sedang meninjau aktivitas proyek tersebut, Rabu (15/10/2014).
Dia menyebutkan, proyek pembuatan jembatan itu digarap Pemkab Ciamis. Sementara Pemkab Kuningan dalam hal itu, mendapat bagian proyek membuat jalan baru penyambung jalan mobil terujung di Kecamatan Subang ke ujung jembatan tersebut.
"Jalan baru yang sedang kami buat ini panjangnya 262 meter, lebar 10 meter," ujar Apep, seraya mengungkapkan proyek pembuatan jalan baru tersebut didanai bantuan Pemprov Jabar senilai Rp 695 juta.
Sementara itu, pada tahun anggaran 2012, Pemkab Kuningan juga telah mendapatkan bantuan dari Pemprov Jabar berupa proyek pembuatan jembatan berikut jalan baru pendukungnya yang menghubungkan wilayah Kuningan dengan Ciamis, memotong alur sungai yang sama.
Jembatan berikut jalan pendukung penghubung dua wilayah kabupaten itu, dibuat di titik perbatasan antara wilayah Desa dan Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan dengan Dusun Jamuresi, Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis.
Menurut dua orang warga Dusun Bojong, Desa Bangunjaya, Kecamatan Subang Emod (61) dan Nasikin (62), sejak masa penjajahan Belanda, penyeberangan aktivitas masyarakat antarduawilayah kabupaten di dua titik lokasi jembatan baru tersebut, biasa menggunakan fasilitas layanan rakit penyeberang sungai.
Malahan, hingga saat ini rakit tradisional sarana andalan untuk penyeberangan orang dan sepeda motor memotong Sungai Cijolang di sekitar Leuwi Kasba, masih aktif.
"Kalau jembatannya sudah jadi, rakit penyeberangan di sini pun, pasti tamat riwayat," ujar Nasikin, yang sedang mendapat giliran sebagai tenaga operator rakit tersebut.

Ia menyatakan masyarakat di desanya merasa sangat senang dengan akan hadirnya jembatan itu. "Ya sangat senang, karena dengan adanya jembatan itu, mobil dari Kuningan ke Ciamis dan sebaliknya, bisa juga lewat ke sini. Dan, kebutuhan orang-orang yang akan menyeberang dari Kuningan ke Ciamis atau sebaliknya tidak akan lagi terhalang saat-saat sungai ini sedang meluap," ujar Nasikin.)Ab@h**=KoranPR

TPA Cikaso Banjarsari Ciamis Diprotes Warga Desa Tetangga

Warga Dusun Mekarjaya dan Dusun Ampuhjati, Desa Cigayam, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, menyesalkan keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang belum lama ini dibangun di Dusun Kramat, Desa Cikaso, Banjarsari.
Menurut warga, Pemerintah Kabupaten Ciamis, dalam hal ini Dinas Ciptakarya, tidak melakukan sosialisasi kepada mereka, terkait pembangunan TPA tersebut. Padahal, selama ini warga menunggu penjelasan dari Dinas Ciptakarya.
Eni Sobarna, tokoh masyarakat Cigayam, mengaku sangat menyayangkan pembangunan TPA tersebut. Terlebih selama ini tidak ada upaya dari Pemerintah melakukan sosialisasi kepada warga.
“Jelaskan dulu keuntungan dan kerugiannya. Jangan asal membanggun. Apalagi ini berkaitan dengan masalah persampahan. Semua warga juga tahu, sampah akan mendatangkan masalah, seperti bau dan masalah kesehatan,” katanya.
Menurut Eni, TPA yang dipersoalkan warga itu lokasinya berdekatan dengan pemukiman penduduk. Dusun yang sangat berdekatan, antaralain, Dusun Mekarjaya dan Dusun Ampahjati. Lokasi pemukiman penduduk dan TPA itu hanya dibatasi Sungai Ciputrahaji.
Yanto, warga RT 04 RW 02, Dusun Ampahjati, mengungkapkan, sebenarnya warga tidak ingin menghalang-halangi agenda pembangunan yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis.
“Cuma sangat disayangkan, tidak ada sosilisasi terlebih dahulu kepada warga,” katanya.
Diyakini Yanto, keberadaan sampah bisa menimbulkan bibit penyakit pada manusia, baik melalui udara atau melalui binatang. Seharusnya warga diberi pengertian tentang sampah atau diberi tahu tentang proses pengolahan sampah tersebut.
Dihubungi terpisah, Sekretaris Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Ciamis, Dodi Suprapto, ST, mengatakan, perencanaan pembangunan TPA di Desa Cigayam sudah berlangsung sejak tahun 2009. Sebelum dilakukan pembangunan, lanjut dia, pihaknya sudah melakukan sosialisasi dan permintaan persetujuan dari warga sekitar.

“Saat itu tidak ada warga yang komplen. Mereka setuju dengan pendirian TPA di daerahnya,” ujarnya, pekan lalu. (Ab@h**/Koran-HR)

Selasa, 14 Oktober 2014

Api Melalap Rumah Warga Cisaga Ciamis


Sebuah rumah permanen milik Tedi, warga Dusun Sukahurip RT 01/RW 03 Desa Sukahurip, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, ludes terbakar dilalap ‘si jago merah’, Senin (13/10/2014), sekitar pukul 11.45 WIB.
Dari informasi yang dihimpun , api diduga berasal dari kayu bakar dan lembaran karet yang terbakar. Setelah membakar puluhan lembaran karet dan kayu kering yang disimpan di halaman rumah korban, tiba-tiba api menyambar atap rumah. Kontan saja, api terus merembat ke seluruh bangunan rumah hingga akhirnya ludes tak tersisa.
Pj Kepala Desa Sukahurip, Kustiawan, mengatakan, di daerah tersebut memang banyak usaha karet rakyat, termasuk Tedi yang rumahnya ludes terbakar. “ Dugaan sementara kebakaran ini diakibatkan dari lembaran karet dan kayu bakar kering yang disimpan di halaman rumah korban terbakar, hingga kemudian api menyambar atap rumah korban,” ujarnya, kepada wartawan, Senin (13/10/2014).
Kustiawan menambahkan, kebakaran ini tidak sampai meluas ke rumah warga lainnya. Karena jarak antara rumah korban ke rumah tetangganya, tidak saling berdempetan. “ Kebetulan jaraknya berjauhan, hingga tidak merembet ke rumah warga lain,” imbuhnya.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ini. Hanya, korban mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. “ Korban pun mengalami shok setelah rumahnya ludes terbakar,” ungkap Kustiawan.
Kebakaran pun akhirnya bisa diatasi setelah satu unit mobil pemadam kebakaran yang didatangkan dari Banjar dan dibantu warga setempat, berjibaku memadamkan api sekitar 2 jam. “ Pihak desa akan berupaya mengajukan bantuan ke pemerintah guna membantu meringankan beban korban. Karena kerugian akibat kebakaran ini ditaksir hingga puluhan juta rupiah dan menghanguskan seluruh harta benda korban,” pungkasnya. Ab@h**/Koran-HR.

Senin, 13 Oktober 2014

Warga Cipaku Ciamis Keluhkan Gundukan Sampah di Pinggir Jalan


Warga di Blok Babakan Dusun Desakulon, Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, mengeluhkan pembuangan sampah secara sembarangan yang dilakukan di pinggir jalan. Untuk mengantipasi itu, Pemerintah Desa sebenarnya sudah melakukan pemagaran di area tersebut.
Dudung, warga Dusun Desakulon, Senin (6/9/10/2014), mengatakan, akibat banyak orang yang membuang sampah sembarangan di pinggir jalan, gundukan sampah mulai terlihat menggunung.
Bahkan beberapa tahun silam, kata Dudung, warga sempat geger karena menyengat bau bangkai, yang diduga ada mayat. Pada waktu itu, petugas dari Koramil dan Polsek Cipaku sempat terjun langsung ke lokasi. Ternyata bau bangkai berasal dari bangkai ayam yang sengaja dibuang masyarakat dari luar daerah.
Jahid, warga lainnya, mengatakan, pernah memergoki warga yang membuang sampah di lokasi tersebut. Ternyata, pembuang sampah bukan berasal dar daerah sekitar, melainkan warga dari luar daerah. Terkadang sampah dilemparkan dari dalam mobil. Meski tahu persis, dia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa.
Hendra, petugas Binamarga, beberapa waktu lalu, menjelaskan, sewaktu masih ada petugas (andir), kebersihan di bagian jalan seperti ini merupakan tangung jawab Pemerintah Kabupaten. Namun, setelah petugas (andir) dihapus/ dihilangkan, masalah kebersihan pinggiran jalan dilimpahkan ke desa masing-masing yang dilintasi jalan kabupaten.
Kepala Desa Ciakar, Sulaeman Nurdjamal, melalui telepon genggamnya, mengaku sangat menyesalkan aktifitas oembuangan sampah secara sembarangan di lokasi pinggir jalan tersebut.
Sulaeman menerangkan, berdasar dari laporan kepala dusun, gundukan sampah di pinggi jalan itu merupakan sampah yang sengaja dibuang oleh warga dari luar daerah. Untuk mengantisipasinya, pihak sudah melakukan pemagaran. Ab@h**/Koran-HR.

Jumat, 10 Oktober 2014

Ketua DPRD Ciamis Nyatakan Tolak UU Pilkada


Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ciamis, H. Asep Roni, dengan tegas menyatakan sikap bahwa dirinya menolak penerapan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang baru disahkan pada akhir Bulan September 2014.
Pernyataan sikap penolakan itu disampaikan dihadapan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Priangan (KMP) Timur, wilayah Kabupaten Ciamis, Kamis (9/10/2014), di halaman Kantor DPRD Ciamis.
Menurut Asep Roni, saat ini demokrasi bangsa Indonesia sedang bagus-bagusnya. Dia juga bertanya-tanya, kenapa kepala daerah harus dipilih oleh DPRD. Padahal, dengan Pilkada langsung (pemilihan dilakukan oleh rakyat), rakyat bisa dengan mudah berkomunikasi secara langsung dengan pemimpinnya.
Pada kesempatan itu, Korlap KMP Timur Wilayah Ciamis, Irfan Paturohman, mengaku sengaja meminta pernyataan sikap dari Ketua DPRD Ciamis, terkait agenda penolakan penerapan Undang-undang Pilkada.
“Ini sikap kami sebagai seorang akademisi yang menghargai nilai-nilai demokrasi dan menghormati hak konstitusional rakyat,” ucapnya.
Selain itu, Irfan menambahkan, KMP Timur juga ingin meminta pernyataan sikap dari fraksi-fraksi yang ada di DPRD. Sayangnya, anggota semua perwakilan fraksi tidak bisa ditemui, karena kabarnya mereka sedang menjalankan tugas di lapangan.
Dari pantauan harapanrakyat.com, mahasiswa KMP Timur sempat terlibat aksi dorong-dorong dengan aparat kepolisian yang mengawal kegiatan aksi demonstrasi. Hal itu dipicu karena KMP lama menunggu kehadiran perwakilan fraksi DPRD. Tidak lama, massa pun membubarkan diri. Ab@h**HR-Online

Rabu, 08 Oktober 2014

Di Ciamis, Dalam Sehari Terjadi 2 Peristiwa Kebakaran Akibat Tabung Gas Bocor


Dalam hari yang sama, Selasa (07/10/2014), terjadi peristiwa kebakaran di wilayah Kabupaten Ciamis yang disebabkan dari gas elpiji ukuran 3 kg mengalami bocor pada bagian selang. Kebakaran pertama terjadi di SMA Negeri 2 Ciamis. Akibatnya, 2 bangunan kantin semi permanen ludes dilahap api. [Baca berita terkait: Dua Bangunan Kantin SMAN 2 Ciamis Hangus Terbakar]
Berikutnya, sebuah pabrik tempe yang berada di Dusun Cikohkol RT 05/RW 01 Desa Sukasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, nyaris ludes terbakar, Selasa (07/10/2014), sekitar pukul 11.00 WIB. Beruntung, api hanya menghanguskan ruangan dapur tempat penggilingan tempe, tidak sampai merembet dan melahap seluruh bangunan pabrik.
Penyebab kebakaran di tempat penggilingan tempe pun disebabkan dari gas elpiji ukuran 3 kg mengalami bocor.
Menurut Udin, warga setempat, saat kejadian, dirinya  mendengar seorang warga berteriak meminta tolong. Dia pun langsung bergegeas mencari sumber suara teriakan tersebut. Ternyata, lanjut dia, tampak kobaran api melalap dapur sebuah pabrik tempe milik Irfan Sutiadi.
Selang waktu 15 menit, puluhan warga sekitar berdatangan ke lokasi kebakaran. Mereka langsung berjibaku memadamkan api dengan alat seadanya. Akhirnya, api berhasil dipadamkan oleh warga dengan mengunakan pasir dan air. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Hanya, kerugian akibat kebakaran tersebut ditaksir sekitar Rp. 10 juta.
Sementara itu, pemilik Pabrik Tempe, Irfan Setiadi, belum bisa dimintai keterangan akibat masih shok dengan kejadian yang menimpa pabriknya.

Dua Bangunan Kantin SMAN 2 Ciamis Hangus Terbakar

Dua bangunan kantin milik Iman (47) dan Ai (43) yang berada di komplek SMA Negeri 2 Ciamis atau tepatnya di Jalan KH. Ahmad Dahlan Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, hangus terbakar, Selasa (07/10/2014) sekitar pukul 05.30 WIB. Dugaan sementara kebakaran disebabkan dari selang tabung gas yang bocor.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, korban mengalami kerugian materil hingga puluhan juta rupiah. Sebab, seluruh bangunan kantin beserta isinya ludes terbakar.
Kapolsek Ciamis, Kompol Mujiran, mengatakan, kebakaran berawal saat pemilik kantin tengah memasak barang dagangannya di pagi hari. Di saat memasak itulah tiba-tiba selang penghubung tabung dengan kompor gas mengalami bocor.
“Awalnya si pemilik warung mendengar ada suara percikan gas bocor. Dia sempat memeriksa tabung gas tersebut. Namun, baru khendak memeriksa tabung, tiba-tiba muncul percikan api dan kemudian menyambar. Si pemilik warung pun kaget dan berusaha menyelamatkan diri,” jelasnya.
Mujiran menambahkan, karena bangunan kantin itu terbuat dari bahan kayu serta dindingnya dari triplek, membuat api yang menyambar itu semakin membesar. Akibatnya,bangunan beserta isinya tidak bisa terselamatkan lantaran hangus menjadi puing-puing.
“Beruntung api tidak merembet ke bangunan ruang kelas yang berada di dekatnya. Karena sebelum api merembet, berhasil dipadamkan oleh pemilik kantin dan masyarakat sekitar,” katanya. Ab@h**HR-Online) 

Senin, 06 Oktober 2014

KONFLIK DESA HANDAPHERANG KEC. CIJEUNGJING


Kegaduhan konflik di tengah-tengah masyarakat Desa Handapherang Kec Cijeungjing kian memanas. Setelah sebelumnya Kepala Desa Handpaherang di demo sejumlah warga akibat kinerjanya yang kurang aktif dalam masalah pembangunan, kini muncul lagi masalah yang membuat keserasahan di tengah-tengah masyarakat.
Minggu (510/2014) pagi, sesudah shalat Idul Adha di lapangan Desa Handapherang, puluhan warga dihebohkan dengan adanya pamplet yang bertuliskan kecaman terhadap rencana penggunaan gedung dakwah yang akan dijadikan tempat belajar sementara TK PGRI Handapherang yang mau direhab. Pamflet tersebut dipasang di tebing gedung dakwah Handapherang.
Dalam kecaman yang ditulis dengan mengatasnamakan “Pergerakan Ghoib” tersebut ditulis bahwa jika pihak pemerintahan Desa dan pengelola gedung dakwah tetap memaksakan penggunaan gedung dakwah sebagai sarana belajar sis­wa Taman Kanak-kanak, hal ter­sebut malah akan menghancurkan pembinaan terhadap agama.
Selain itu dalam pamflet tersebut, penulis misterius menuntut agar kepala Desa bisa menghentikan langkah, pengelola gedung dakwah untuk memberikan izin penggunaan gedung dakwah sebagai sarana belajar sementara taman ka­nak-kanak. Jika tidak bisa me­ngeluarkan kebijakan untuk menghentikan langkah penggunaan gedung tersebut, Kepala Desa dituntut mundur.
Demo tulisan tersebut mendapat penilaian berbeda-beda di tengah masyarakat. Banyak masyarakat yang tidak setuju jika gedung dakwah dijadikan tempat belajar TK PGRI.
Sandi warga Handapherang menyatakan, gedung dakwah tidak mempunyai fungsi untuk dijadikan tempat belajar wa­laupun sifatnya sementara. Se­bab, nantinya akan mengganggu terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan yang akan dilaksanakan.
Kalau memang mendesak dan tidak ada opsi lain, baru bisa dipaksakan pemakaian gedung dakwah.
Menurutnya, di dekat TK PGRI masih ada dua Sekolah Dasar yaitu SDN 1 dan SDN 2 Handapherang.
“Opsi meminjam dan ikut melaksanakan kegiatan belajar di SD tentu akan lebih baik daripada menggunakan gedung dakwah,” katanya seusai Shalat Iduladha di lapangan Desa Handapherang.
Dia mengatakan seharusnya, Kepala Desa Handapherang bi­sa mengeluarkan kebijakan ter­kait penghentian rencana penggunaan gedung dakwah menjadi tempat belajar anak TK.
“Seharusnya Kades bisa lebih tanggap dan membuat keputusan yang benar, jangan sampai keputusan penggunaan gedung dakwah keluar dari pihak lain, bukan kebijakan yang Kades keluarkan,” ujarnya.
Sementara itu salah seorang tokoh masyarakat Desa Han­dapherang yang enggan disebutkan namanya menyatakan, kebijakan penggunaan gedung dakwah sebagai sarana belajar sementara TK PGRI memang keluar dari Ketua Tim Penge­lola Gedung Dakwah yang di­bentuk oleh Badan Per­musya­ratan Desa (BPD) beserta Pe­me­rintahan Desa Handap­herang.
Namun kebijakan tersebut terlontar dari ketua pengelola gedung dakwah dan tidak me­lalui musyarawah dengan se­mua elemen yang ada. Namun di sini kata dia, ketika terjadi konflik seperti ini dibutuhkan kebijakan yang jelas dari Kepala Desa.
“Jangan sampai gara-gara tidak ada kebijakan yang real dari kades malah membuat resah masyarakat,” katanya.

Dia mengatakan, sebenarnya ada opsi yang sangat baik bagi TK PGRI apabila ingin ikut meminjam tempat belajar yaitu di SDN 1 Handapherang dan SD­N 2 Handapherang. Ab@h**KP-Online.

Jumat, 03 Oktober 2014

WARGA SARAYUDA KESAL

Kantor Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeung­jing, Kabupaten Ciamis, dilempari limbah bekas pembuatan tepung aren oleh sekelompok orang yang tidak dikenal, pada Rabu ( 1/10/2014) malam. Akibat lemparan itu halaman menjadi kotor dan bau.
Peristiwa pelemparan limbah tersebut, diduga akibat kekesalan warga terhadap sejumlah pabrik pengolahan te­pung aren yang berada di wila­yah Dusun Sarayuda Desa Kertaharja.
Akibat peristiwa tersebut, kini halaman kantor serta tembok kantor desa menjadi kotor serta menimbulkan bau tidak sedap.
Penjabat Kepala Desa, Desa Kertaharaja, Otong Dadi, menjelaskan, peristiwa pelemparan limbah bekas pengolahan te­pung aren tersebut, diduga dilakukan oleh sekelompok orang yang merasa kesal terhadap air yang berada di sungai Cisepet sudah tercemari oleh limbah dari pengelolan tepung aren.
“Kami belum mengetahui siap pelaku pelemparan tersebut, namun kami menduga aksi tersebut dilakukan, terkait dengan pencemaran limbah pengolahan tepung aren di sungai Cisepet,” ujarnya.
Dikatakan Otong, permasalahan terkait limbah tersebut memang sudah menjadi persolaan yang cukup lama, terutama ke­tika pada musim kemarau. Terkait dengan itu pihaknya sudah berkali-kali untuk mengatasi permasalah tersebut, namun pihak perusahaan hingga saat ini masih ada perusahaan yang belum melaksana­kan kesepakatan terkait mengatasi limbah tersebut.
Karena merasa tidak puas, warga akhirnya melampiaskan permasalah itu ke pihak desa, karena dianggap tidak bisa mengatasi permasalah tersebut.
“Kami tidak bisa melakukan penutupan terhadap sejumlah pabrik pengeloahan tepung aren tersebut. Karena itu bukan kewenangan pihak desa,“ ujar Otong.
Sementara menurut Camat Cijengjing, Gustiawati, pihaknya akan segera melakukan pemanggilan terhadap beberapa pengusaha pengolahan te­pung aren tersebut, untuk se­gera menyelesaikan permasa­lah yang terjadi sekarang ini.
“Kami tidak mau ada aksi le­bih jauh lagi dari warga. Jika hak itu terjadi nantinya bisa me­nimbulkan konflik lebih pa­rah, sehingga bisa berurusan de­ngan pihak hukum. Mudah-mudahan bisa secepatnya diatasi,” ujarnya.
“Kami berharap kepada pihak perusahan jangan hanya memikirkan keuntungan saja, namun harus memikirkan juga dampak yang akan terjadi,“ tuturnya.Ab@h**KP.

Kamis, 02 Oktober 2014

Tebing di Jalur Utama Sukamantri Ciamis Longsor

Tebing setinggi 20 meter dan lebar kurang lebih 15 meter di Blok Ciketok, jalan Babakan Sukamulya, Desa Sindanglaya, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, terbawa arus longsor. Ironisnya, kondisi sudah berlangsung lama dan belum ada tanda-tanda mendapat perbaikan.
Warga yang tinggal di sekitar lokasi, meminta Pemerintah Kabupaten Ciamis secepatnya memberikan bantuan berupa pembuatan Tembok Penahan Tebing (TPT). Pasalnya, bila tidak segera diantisipasi, bisa dipastikan pada musim hujan mendatang bagian badan jalan akan terseret longsor.
Mamat, warga Dusun Sindangkalangon, Sindanglaya, belum lama ini, mengatakan, kejadian longsornya tebing sudah berlangsung lama. Menurut dia, bila tidak dipasang TPT warga khawatir badan jalan akan mengalami peristiwa serupa.
“Kalau saja terjadi (longsor), perekonomian warga akan menjadi lumpuh. Sebab, jalan itu merupakan akses utama penghubung antar Desa Sindanglaya dengan pusat kecamatan,” katanya.
Senada dengan itu, Nana, warga Dusun Babakan, Sukamulya, mengatakan, terdapat dua titik tebing jalan yang mengalami longsor di kawasan Blok Ciketok. Menurut dia, longsor terjadi guyuran hujan dan kontruksi tanah yang labil. Akibat longsor itu, lahan pertanian warga tertimbun.
Udin (45), warga Dusun Cicanar Landeuh, menjelaskan, akses jalan tersebut bukan hanya sebagai penghubung antar Desa Sindanglaya ke wilayah Desa Sukamantri. Namun, akses jalan itu juga merupakan penghubung antara Kecamatan Sukamantri dan Kecamatan Panawangan.

“Jalan itu sangat produktif. Seandainya titik longsoran meluas, dikhawatirkan akan merusak lahan pertanian. Akses perekomian warga pun bisa lumpuh total,” pungkasnya. Ab@h**Koran-HR.