" Kejujuran,.. Integritas,.. Kerjasama,.. Hirarki, . . Loyalitas,... . . ."ds

Selasa, 31 Maret 2015

Buron enam bulan, akhirnya di ringkus

Jajaran Satreskrim Polres Ciamis, pekan lalu, berhasil membekuk dua dari tujuh pelaku perampokan yang menggasak Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ciamis yang terjadi pada 11 September 2014 lalu. Dua pelaku yang dibekuk polisi diketahui berinisial AL (36) warga Jalan Cutmutia, Kelurahan Margahayu, Kota Bekas Timur. AL ditangkap pada hari Selasa (24/03/2015) lalu di Terminal Bekasi.  Setelah sempat buron selama kurang lebih enam bulan, dua dari tujuh pelaku perampokan di Kantor Kementrian Agama Kabupaten Ciamis 11 September 2014 lalu berhasil diringkus Unit Buser Satreskrim Polres Ciamis.

Sementara satu pelaku lagi berinisial RS (41), warga Kelurahan Pasaban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. RS ditangkap pada hari Rabu (25/03/2015) di rumahnya, di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.
Sementara untuk pelaku lainnya SA ditahan di Lapas Cianjur dan RH ditahan di Lapas Purwakarta. Sedangkan UC, AZ dan SOP kini masih dalam pengejaran dan ditetapkan menjadi DPO Polres Ciamis.
Kasat Reskrim Polres Ciamis AKP Kusnadi Erisyadi, S.H, MM mengatakan melihat kasus pencurian dengan kekerasan di Kantor Kemenag Ciamis, pihaknya langsung membentuk tim untuk melakukan penyelidikan, Dan dari hasil koordinasi dengan pihak kepolisian daerah lain, lanjut dia, akhirnya ditemukan jejak si pelaku.

 “Alhamdulillah setelah beberapa bulan dilakukan penyelidikan kita bisa menangkap dua pelaku, dua lagi sudah diproses di luar kota. Untuk sisanya masih buron dan ditetapkan sebagi DPO, semua yang ditangkap sebagai pelaku utama. Memang profesi mereka sebagai pencuri dengan kekerasan,” jelasnya saat ekspos kemarin (30/3/2015).

Dia menambahkan, kini pihaknya tengah mengejar dua pelaku yang sudah dinyatakan buronan polisi. “ Sementara yang dua pelaku ditangkap di luar daerah, kita serahkan penanganannya ke kepolisian setempat. Kita saat ini tengah memburu dua pelaku yang buron,” ungkapnya.


Menurut Kasat Reskrim Polres Ciamis, para pelaku merupakan spesialis pencurian dengan kekerasan yang sudah sering beroperasi di berbagai daerah. “ Sementara untuk 2 pelaku yang sudah kita tangkap, akan kita jerat dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian disertai kekerasan dengan ancaman hukuman di atas 9 tahun penjara,” pungkasnya. ( Ab@h**/HR-Online)

Sabtu, 28 Maret 2015

Menteri Susi Komandoi Aksi Pungut Sampah di Pantai Pangandaran

Selain menggelar rapat internal Kementerian, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, pun hadir di acara Polisi Sahabat Pantai yang digelar di Lapangan Boulevard Pantai Barat Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (28/03/2015) pagi.
Pada acara tersebut, Susi bersama Wakapolda Jabar Brigjen M. Taufik dan Pj. Bupati Pangandaran, Endjang Naffandy, secara bersamaan menekan tombol sirene simbolis digelarnya acara tersebut.

Dalam sambutannya, Susi menegaskan, pihaknya mendukung penerapan Undang- undang tentang Sampah yang akan diterapkan secara tegas di kawasan pantai Pangandaran. Menurutnya, masyarakat dan wisatawan diharapkan bisa menjaga kelestarian alam pantai Pangandaran yang sudah dikenal keindahannya hingga ke mancanegara.
“Kita berharap dengan adanya Undang-undang sampah bisa mengubah mental buruk masyarakat yang terbiasa membuang sampah sembarangan. Khusus di pantai Pangandaran ini, pemerintah harus tegas terhadap pelanggar yang membuang sampah sembarangan,” tegasnya.

Menurut Susi, kerap menumpuknya sampah di pesisir pantai Pangandaran apabila terjadi lonjakan wisatawan, jangan dianggap permasalahan sepele. Karena, apabila pantai Pangandaran sudah memiliki image kumuh, jangan harap wisatawan akan banyak berdatangan ke Pangandaran. “ Kalau pantai bersih, orang pasti ketagihan datang ke sini. Karena tempatnya nyaman untuk mereka berlibur,” ungkapnya.
Susi tampaknya tidak hanya melakukan himbauan saja, tetapi seusai memberikan sambutan, menteri nyentrik itu langsung turun ke pantai dan kemudian melakukan aksi pungut sampah yang berserakan di kawasan pantai. Aksi Susi itu langsung diikuti ratusan siswa dan ratusan aparat pemerintahan yang hadir di acara tersebut. Juga masyarakat dan nelayan pun ikut melakukan aksi serupa.

Susi yang berbaur dengan masyarakat, tak ragu memungut sampah yang berserakan di kawasan pantai. Dengan gaya low profilenya dan sesekali bercanda dengan masyarakat, Susi tampak tak canggung melakukan aksi pungut sampah. Sementara itu, dari informasi yang kami himpun, aksi pungut sampah yang melibatkan aparat Polri, TNI, aparat pemerintahan, pelajar dan masyarakat ini, menghasilkan sekitar 2 truk sampah yang terkumpul. Aksi ini pun diikuti oleh ribuan orang yang sengaja datang ke acara tersebut.

Sambil Pulang Kampung, Menteri Susi Gelar Rapat Kementerian di Pangandaran

Meski Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, hari ini pulang ke kampung halamannya di Pangandaran, namun bukan untuk santai serta melepas penat setelah selama sepekan menjalankan tugas negara di Jakarta. Tetapi, sang menteri nyentrik ini justru memboyong anak buahnya di Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menggelar rapat koordinasi kedinasan yang digelar di rumahnya, di Dusun Karangsalam, Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran.

Saat ditemui kami dalam acara Polisi Sahabat Pantai, yang digelar di Boulevard Pantai Barat Pangandaran, Sabtu (28/03/2015) pagi, Susi mengakui kepulangannya saat ini tidak hanya untuk sekedar pulang kampung, tetapi dirinya memboyong anak buahnya untuk menggelar rapat koordinasi internal Kementerian Keluatan dan Perikanan.

“Rakor yang biasa digelar di Jakarta, saya pindahkan ke rumah saya di sini (Pangandaran). Ya… cari suasana lain lah. Selain itu, acara rakornya biar nyaman dan konsentrasi kalau digelar di sini. Karena di Jakarta terlalu gaduh oleh keramaian,” ujarnya.

Dari informasi yang kami himpun, Susi akan menggelar rapat dengan pejabat eselon I Kementerian Keluatan dan Perikanan guna membahas evaluasi program kerja di internalnya. Dari pantauan HR sejak pagi tadi, rumah Susi yang akan dijadikan tempat rapat sudah dijaga ketat oleh puluhan petugas keamanan dari Kepolisian Resor Ciamis.


Para awak media pun tidak diperkenankan masuk ke ruangan rapat, dengan alasan rapat tersebut merupakan agenda internal dan tertutup untuk awak media. (Ab@h**/HR-Online)

Kamis, 26 Maret 2015

Di pasar Ciamis Waspadai Orang Pura-Pura Gila

Pasar Manis Ciamis sering dikunjungi pengamen, pengemis dan anak punk hingga orang yang pura-pura gila. Hal itu membuat warga pasar merasa risih. Baik pengelola maupun pengunjung pasar sama-sama merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka.

Kepala UPTD Pasar Manis Ciamis Toto W Heryanto mengatakan, peningkatan jumlah pengamen dan pengemis terjadi sejak dua bulan kebelakang. “Waduh, sekarang udah makin naik aja jumlahnya. Tapi mereka memang dari kota lain,” ungkapnya saat ditemui di kantornya kemarin (25/3/2015).

Kepala UPTD Pasar Manis Ciamis Toto W Heryanto menuturkan, seminggu ke belakang terjadi pencurian di pasar. Ketika itu muncul orang yang berpura-pura gila. Kemudian orang tersebut mengambil dompet milik pengunjung yang tengah berbelanja. Orang itu sempat dikejar warga pasar namun menghilang begitu saja. “Kalau orang (tidak) waras mah gak mungkin sampai hilang,” katanya.
Menurut Kepala UPTD Pasar Manis Ciamis, para pengamen dan anak punk biasanya datang bergerombol. Jumlahnya tiga sampai empat orang dalam satu kelompok. Kehadiran mereka yang suka berkeliling pasar membuat para pengunjung mulai resah dan mengeluh. “Imbasnya itu ke pengunjung. Mereka jadi resah, kadang-kadang ada yang gak jadi beli (belanja, Red),” ungkapnya.

Kekhawatiran pengunjung dan pedagang itu, lanjut dia, beralasan. Sejak kehadiran mereka banyak warga pasar mengadu kehilangan handphone dan uang di kios atau ketika berbelanja.
“Dikatakan sering (terjadi pencurian, Red) gak yah, tapi ada lah. Nah, untuk keamanan sendiri kini mulai ditingkatkan. Ada pengamanan dari himpunan, terus dari polsek juga udah ngirim satu orang untuk bertugas di sini mulai minggu ini,” jelas Kepala UPTD Pasar Manis Ciamis Toto W Heryanto.

Kepala UPTD Pasar Manis Ciamis Toto W H, juga mengaku sering berkoordinasi dengan Satpol PP untuk menangani para pengamen dan anak punk di sekitar pasar, namun sampai sa’at ini belum ada penanganan yang signipikan.

Dadang, salah satu petugas parkir di Pasar Manis membenarkan peningkatan jumlah pengamen dan anak punk di sekitar pasar. Mereka biasanya mangkal di sudut-sudut pasar. “(pengamen dan anak punk) Ada tiap hari juga,” ungkapnya. (Ab@h**/Rdr )

Selasa, 24 Maret 2015

Di Panjalu Uus Duel dengan Tiga Maling

Rumah milik Uus Ahmad Yusuf (51) di Dusun Hujung Tiwu Desa Hujung Tiwu Kecamatan Panjalu disantroni maling sekitar pukul 01.00 Senin (23/32015). 
Beruntung aksi mereka diketahui pemilik rumah. Bahkan Uus langsung berduel dengan pelaku. Berdasarkan informasi yang kami himpun, tiga orang yang diduga maling masuk ke rumah Uus. 
Dua pelaku lain menunggu di luar dalam mobil. Tiga pelaku yang masuk kepergok, korban kemudian berduel dengan para pelaku. Tak lama pelaku melarikan diri setelah warga sekitar berdatangan. Anggota Kepolisian Polsek Panjalu yang kebetulan sedang berpatroli mendapat informasi kemudian melakukan pengejaran.
Anak pemilik rumah Sani Nurhayati (27) menuturkan kejadian bermula ketika sekitar pukul 01.00 saat tidur dirinya mendengar suara yang berasal dari jendela samping kanan rumahnya. Belum sempat membuka mata, tangan pelaku sudah membekap dirinya.
“Mungkin bapak mendengar ada suara, lalu bangun dan berusaha menolong. Lalu saya langsung teriak, bapak sempet berkelahi dulu sampai tangannya luka lebam,” jelasnya saat ditemui di kediamannya kemarin siang.
Setelah berteriak minta tolong, para pelaku yang berjumlah tiga orang kabur melihat banyak warga yang datang.
Karena tidak bisa bicara, Uus Ahmad Yusuf menjelaskan kronologis pencurian lewat poster abjad. Dia mengaku baru tiga puluh menit tertidur. Mendengar suara aneh, dirinya terbangun dan mencari asal suara. Ternyata tiga orang asing sudah berada di rumahnya. Melihat anaknya dibekap ia langsung berduel dengan tiga pelaku.
Tiga pelaku itu kemudian melarikan diri tanpa membawa barang di rumah korban setelah warga sekitar berdatangan. Mengetahui kejadian itu, warga dan anggota Polsek Panjalu mencari pelaku, termasuk menghentikan setiap kendaraan yang lewat.
Tak jauh dari lokasi kejadian, dua orang yang mencurigakan ditemukan warga di dalam mobil umum. Setelah diamankan, ternyata dua orang itu pelaku yang masuk ke rumah Uus karena korban mengenali wajah pelaku, karena sempat duel.
Kapolsek Panjalu AKP H Deni Syarif SE mengatakan saat anggotanya berpatroli, mereka mendapat informasi pencurian. Ternyata para pencuri sudah melarikan diri. Anggotanya kemudian melakukan pengejaran.
“Alhamdulillah pelaku yang melarikan diri menggunakan angkutan elf Bandung-Panjalu langsung ditangkap dua orang,” ujar kapolsek, dari dua pelaku yang diamankan kemudian dilakukan pengembangan. “Akhirnya dikembangkan, dilakukan pengejaran dari jam 07.00 sampai jam 09.00 ketiga pelaku lainnya ditangkap. Jadi semuanya sudah tertangkap,” ujarnya saat ditemui di Mapolsek Panjalu.
Adapun identitas dari para pelaku antara lain SD (23), RD (30) warga Cianjur, HWG (50) warga Tasikmalaya, ASP (40) warga Panumbangan dan HR (40) warga Bekasi.
Modus yang dilakukan pelaku dengan mencongkel jendela kaca. Berdasarkan keterangan korban, kata dia, sempat ada penyekapan, namun korban berhail melawan.
“Sementara tahanan dititipkan di Polres Ciamis,” Kapolsek Panjalu AKP H Deni Syarif SE menjelaskan.
Para pelaku dijerat dengan pasal 365 KUHPidana tentang pencurian dengan kekerasan dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Pelaku HWG (50) mengaku menjadi otak pencurian. Menurutnya aksi dilakukan secara spontan karena kebutuhan. Ia mengaku tidak pernah melakukan aksi pencurian dan belum masuk penjara. “Ini pertama kali, karena kepepet kebutuhan. Tidak direncanakan,” singkat HWG. (Ab@h**/Rdr)

Senin, 23 Maret 2015

Cegah Penyebaran Paham Radikal ISIS di Ciamis

Sekitar 150 orang kepala siskamling dari Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran dikumpulkan Polres Ciamis. Mereka diberi peningkatan kemampuan dan pembinaan untuk menangkal penyebaran paham radikal. Hal itu berkaitan dengan dugaan lima orang warga Ciamis yang ditahan di Turki karena ingin bergabung dengan ISIS.

“Kegiatan ini memang rutin dilakukan tapi sekarang untuk peningkatan kemampuan. Artinya me-refresh (mengingatkan, Red) kembali, apa yang harus dilakukan di masyarakat terutama dalam keamanan dan ketertiban lingkungan,” ujar Kapolres Ciamis AKBP Hari Santoso kepada Radar di Aula Pusat Gatra Kamis (19/3/2015).

Dengan peningkatan kemampuan itu, dia berharap para petugas siskamling dapat memberi informasi kepada masyarakat tentang isu yang sedang berkembang. Terutama, soal adanya paham ISIS. Masyarakat harus melakukan antisipasi dan pencegahan.
“Nantinya para kepala siskamling dan anggotanya bisa turut serta memberikan penyuluhan mengenai masalah ISIS. Mereka dibantu babinkamtibmas dan babinsa,” kata Kapolres Ciamis menambahkan.

Rencananya, Polres Ciamis juga akan menyelenggarakan diskusi kelompok bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda serta Kodim 0613 dan pemerintah untuk membahas fenomena ISIS dan keamanan wilayah.

Kasat Binmas Polres Ciamis AKP Salim Aziz menambahkan kegiatan tersebut merupakan upaya menekan tindakan kriminalitas seperti pencurian, pencurian sepeda motor maupun begal yang kerap terjadi. Masyarakat juga diminta memberdayakan kembali pos ronda yang saat ini jarang digunakan.
Dalam waktu dekat, di bulan April, Polres Ciamis akan melakukan uji petik di tujuh desa untuk memantau keamanan di daerah.


“Ini juga dalam rangka silaturahmi antara kepolisian dengan para kepala siskamling dan anggotanya di Ciamis dan Pangandaran. Di sini saling bertukar pikiran untuk sama-sama meningkatkan keamanan lingkungan,” tandas Kasat Binmas Polres Ciamis AKP Salim Aziz. 

Sementara di Desa Ancol Sindangkasih Alat Perakam e KTP diembat Maling

Seperangkat alat elektronik untuk pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk) seperti Kamera dan Kom­pu­ter di kantor Kecamatan Sin­­­­dangkasih di jalan raya Cihaurbeuti Desa Ancol Ke­ca­matan Sindangkasih, Ka­bu­paten Ciamis raib diembat maling. Aksi pencurian yang terjadi, Jumat (20/3/2015) di­ni hari, pertama kali diketa­hui oleh operator KTP, Yan­ti, sekitar pukul 08.00 WIB. Waktu masuk ruangan su­dah berantakan, setelah di­cek dua kamera, empat mo­nitor, dua CPU, dua mou­se dan dua keyboard hilang.
“Maling berhasil masuk ke ruangan dengan mencongkel pintu ruangan tersebut. Semua barang di ruangan lenyap. Maling hanya menyisakan tripod kamera saja,” kata Yanti.

Lanjut Yanti, melihat kondisi itu ia langsung melaporkan kepada pimpinannya, dan kepolisian. Tidak lama kemudian anggota pol­sek Cikoneng datang dan memeriksa tempat kejadian perkara.
Panit Reserse Kriminal Pol­sek Cikoneng Aiptu Ono membenarkan kejadian ter­sebut. Maling diduga me­la­ku­kan aksinya pada subuh ketika petugas piket tertidur.

”Petugas piket sekitar pu­kul 01.00 masih bangun, dan saat itu tidak ada orang yang mencurigakan,” ujar­nya. Kerugian akibat kejadian itu ditaksir sekitar Rp 50 juta. 
”Kami akan selidiki pencurian ini karena kemungkinan para pencuri me­ngetahui seluk beluk kantor kecamatan,” ujar Panit Reserse Kriminal Pol­sek Cikoneng Iptu Ono.

Kepala Bidang Adminis­trasi kependudukan, Dis­duk­capil Kabupaten Ciamis Didin, menjelaskan, dengan kejadian ini pelayanan E-KTP akan terganggu. Antisi­pasi untuk perekaman E-KTP warga ikut ke kantor Kecamatan terdekat seperti Cihaurbeuti atau Cikoneng. Didin menambahkan alat elektronik itu bantuan hi­bah dari Dirjen Kemen­dagri yang belum diserahkan ke Pemkab Ciamis. ( Ab@h**/Kp/Rdr Online )

Kamis, 19 Maret 2015

Sopir Truk Diringkus Polisi

Setelah sempat buron selama dua bulan, sopir truk berinisial MZ (46) akhirnya diciduk Unit Buser Satreskrim Polres Ciamis. Dia ditangkap di rumahnya di Dusun Cigegal RT 01 RW 04 Desa Gunung Tanjung Kabupaten Tasikmalaya. Pria ini diduga telah mencuri sepeda motor di SMP Negeri 2 Ciamis pada tanggal 18 Januari 2015 lalu.

KBO Reskrim Polres Ciamis Iptu H Ref Effendi menuturkan, penangkapan itu didasarkan para laporan korban bernama Tata Saputra yang telah kehilangan sepeda motor jenis matik pada bulan Januari. Motor terakhir kali disimpan di parkiran SMP N 2 Ciamis Jalan Jendral Sudirman.
“Kita langsung melakukan penyelidikan. Setelah dua bulan buron akhirnya berhasil ditangkap di rumahnya,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan, lanjut dia, aksi pencurian tidak dilakukan sendiri. Pelaku memiliki seorang rekan yang hingga kini masih buron dan masuk daftar pencarian orang (DPO) berinisial AT. MZ juga mengaku sebagai mantan anggota kepolisian di semarang yang dipecat atasannya, tapi KBO Reskrim Polres Ciamis Iptu H Ref Effendi belum bisa memastikan pengakuan MZ itu benar atau tidak.
“Kita masih melakukan pengembangan untuk TKP lainya, juga masih memburu keberadaan AT,” kata KBO Reskrim Polres Ciamis Iptu H Ref Effendi lebih lanjut.

Dalam aksinya MZ menggunakan kunci leter T untuk mematahkan kunci leher. Dari pengakuannya kepada polisi MZ bertugas sebagai pemetik. Setelah mencuri sepeda motor milik Tata, pelaku sempat bersembunyi dengan berpindah-pindah tempat. Akibat perbuatannya pelaku dijerat pasal 363 KUH Pidana tentang Pencurian dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Saat diinterogasi, MZ mengaku hanya mengikuti ajakan rekannya, AT. Awalnya dia melakukan perjalanan dengan tujuan Majalengka untuk urusan bisnis. Namun ketika sampai di kawasan Nagrak dekat SMPN 2 Ciamis, dia diminta oleh AT menunggu di pom bensin.
“Saya di luar yang ngambil temen. Saya cuma nganter saja tidak tahu mau mencuri, rencana mau ke Majalengka. Setelah sepeda motor berhasil dibawa temen saya bawa motor lalu saya pakai motor saya dan kembali lagi ke Tasik,” katanya.


MZ mengenal AT satu bulan lalu di Karawang. Mereka mulai akrab karena AT mengajak bisnis jual beli kayu, ayam dan pakan ayam. Sehari-hari, MZ mengaku bekerja sebagai sopir truk. Dia mengaku tidak mengetahui sepeda motor hasil curian akan dijual kemana, namun saat itu AT menitipkan sepeda motor tersebut kepada MZ. “Saya tidak tahu-menahu karena saya hanya mengantar,” jelasnya.( Ab@h**/Rdr )

Rabu, 18 Maret 2015

Pasar Cikurubuk Terbakar tadi malam

Kebakaran hebat terjadi di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya tadi malam. Sebanyak 300 kios di pasar terbesar di timur Jawa Barat itu hangus.

Sampai Rabu dini hari (18/3/2015), api belum bisa dipadamkan. Petugas Pemadam Kebakaran dari Kota Tasik, Kabupaten Tasik, Ciamis dan Banjar masih memadamkan si jago merah itu.
Petugas keamanan Pasar Cikurubuk Ii Romansyah (52) mengaku sekitar pukul 20.00 mendengar suara letupan. Dia yang penasaran kemudian melihatnya dan melihat atap kios di Blok A 1 pasar yang dijaganya itu mengeluarkan api. “Ada puluhan kali suara letupan,” ungkapnya di lokasi tadi malam. Sejak itu api membesar. Pasar Cikurubuk pun terbakar.

Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Noffan Widyayoko SIK, MA mengatakan dari informasi yang dihimpunnya bahwa sumber api diduga dari kabel listrik di tiang tengah Blok A 1 pasar terbesar di Priangan Timur itu. Api kemudian menyebar ke kios-kios dan membakar hampir seluruh kios di blok tersebut.

Informasi yang sampai kepadanya dari petugas pasar, sebanyak 300 kios, belum termasuk lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) di depan blok tersebut terbakar.
Kepala UPTD Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tasikmalaya Mulyono mengaku tidak bisa memprediksi berapa lama pihaknya bisa memadamkan api. Pasalnya jarak antara pasar yang terbakar dengan sumber air cukup jauh. Hal itu membuat upaya pemadaman api memakan waktu yang cukup lama. ”Belum tahu kapan bisa padam,” katanya.

Sebagai upaya untuk mempercepat proses pemadaman, pihaknya juga meminta bantuan Damkar Kabupaten Tasik, Ciamis dan Banjar. Jika ditotalkan, mobil pemadam kebakaran yang menyemprotkan air sekitar 18 unit. ”Dari kota empat unit, belum lagi dari Kabupaten, Ciamis dan Banjar,” tuturnya.
Selain menggunakan mobil pemadam kebakaran, pemadaman api di pasar tersebut juga menggunakan water cannon milik Polres Tasikmalaya Kota. Kendaraan yang biasanya dipakai membubarkan massa itu, dipakai menyemprotkan air ke kobaran api.

Tadi malam, Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman bergerak cepat membahas kebakaran pasar terbesar di wilayah timur Jabar ini. Dia tampak memimpin pertemuan dengan para kepala dinas. Pertemuan tersebut dilaksanakan di kediaman Budi di Jalan Bojong, Cipedes, Kota Tasikmalaya. Dalam pertemuan hadir Sekda Idi S Hidayat, Kadis KUMKM Perindag Tatan Rustandi dan pejabat lainnya.

Listrik Mati Api Muncul . . . . .

Pedagang di Blok A 1 Pasar Cikurubuk kaget ruko tempat mereka berjualan habis terbakar. Meski api sampai Rabu (18/3/2015) pukul 01.30, mulai berangsur padam, sebagian pedagang enggan melihat ke dalam kios, karena masih khawatir api bisa menyala lagi dan mengancam nyawa mereka.
Nana Suhermana (50), seorang pedagang perkakas mengaku pasrah atas kejadian tersebut, karena ketika tiba di lokasi sudah tidak ada lagi barang jualannya yang bisa diselamatkan. “Pas sampe sudah menyala, mendengar kabar pukul tujuh dari tetangga saya langsung ke sini. Tetapi mau apalagi, api sudah begitu besarnya,” ujarnya tadi malam.
Pemilik Toko Alat Tani Galonggong ini sempat memberanikan diri masuk ke dalam, tetapi mengingat nyawanya lebih berharga dari barang dagangannya, ia mengurungkan niat tersebut.
“Cangkul dan sebagainya sudah habis. Tadinya mau nyelametin barang-barang yang masih bisa dipakai, tetapi itu tidak seberapa dibanding dengan nyawa saya,” ujarnya.
Pantauan kami dilapangan di antara ratusan kios di Blok A 1 yang terbakar, ada satu kios yang tidak menjadi arang. Padahal di sisi kiri dan kanan kios milik Hj Ade itu ludes terbakar. Kios DO yang dipakai berjualan buah-buahan oleh warga Kawalu Kota Tasikmalaya itu tidak jadi arang karena semua dindingnya menggunakan tembok beton. Bahkan, atap kios pun dicor. Kios di ujung timur Blok A Pasar Cikurubuk itu terbilang cukup luas karena tiga kios disatukan.
Mulai tadi malam hingga dini hari tadi, kawasan Pasar Cikurubuk dipadati orang-orang. Mulai pedagang yang mengevakuasi barang, polisi, warga dan petugas pemadam kebakaran yang mematikan api hingga orang yang menonton.
Ade Rahman (34) warga Cihideung sengaja datang ke Cikurubuk untuk melihat kebakaran tersebut. Dia penasaran. “Makannya datang ke sini. Dengar dari tetangga terus langsung ingin melihat kejadiannya,” ungkapnya.
Adapun Epul Saepul Mutaqin (30), pemilik Toko Adiputra –yang lokasi tokonya di seberang Blok A 1—buru-buru menghampiri lokasi kebakaran. Warga Bojong, Cipedes, Kota Tasik ini khawatir api akan melumat tempat usahanya.
“Dapat kabar jam tujuhan (malam). Katanya dari magrib listrik mati lalu terjadi kebakaran,” tuturnya.
Catatan kami, 2 September 2009 sekitar empat jam setelah Tasikmalaya dan sekitarnya dilanda gempa 7,3 skala richter (SC), Blok B Pasar Cikurubuk pun terbakar. Api melalap kios-kios di blok tersebut.(Ab@h**/Rdr)

Selasa, 17 Maret 2015

Warga Ciamis dan 1 Warga Kab. Bandung Diduga Jadi Anggota ISIS

WNI yang diduga menjadi anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), satu di antaranya adalah warga Kabupaten Bandung, dan empat orang adalah warga Ciamis, Jawa Barat.
“Dari informasi yang kami peroleh bahwa ada satu WNI yang bernama Asyahnaz Yasmin binti Mahfuouzt Firdaus yang merupakan warga Kabupaten Bandung,” kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono, kepada wartawan, pada Senin (16/3/2015).

Pudjo menjelaskan bahwa dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Jajaran Polres Bandung, Asyahnaz merupakan warga Kampung Babakan Ciparay, RT 01 RW 06, Desa Rancakasumba, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, data ini merupakan hasil penyelidikan identitas korban melalui KTP yang tercatat di Pemkab Bandung.”Jadi KTP awalnya dia warga Siak dan baru ganti beberapa waktu lalu menjadi KTP Kabupaten Bandung,” ujarnya.

Lebih lanjut Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono menerangkan, dari Kartu Keluarga baru yang diterbitkan oleh Disdukcapil Kabupaten Bandung Asyahnaz ini lahir di Lampung pada 7 Juli 1989 silam.

Pudjo pun memaparkan bahwa, Asyahnaz sebenarnya sudah sejak lama berpisah dari orangtuanya, Namun beberapa waktu lalu dia tiba-tiba mendatangi orangtuanya.

“Kata orangtua dari Asyahnaz yaitu Mahfouzt Firdaus (47), bahwa Asyahnaz ini adalah anaknya dari istri pertamanya yang telah meninggal dunia, yaitu saudari Hartati,” katanya.
Jadi kata Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono, Asyahnaz ini menurut keterangan ayah kandungnya tersebut, tinggal di Provinsi Lampung bersama ibunya, atau mantan istri Mahfouzt, namun mereka sudah bercerai sejak tahun 1990.

“Sejak itu orang tua yang bersangkutan, atau saudara Mahfouzt Firdaus, sudah lost contact atau tidak ada komunikasi dengan anaknya,” katanya.

Namun lanjut Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono sekira bulan November 2014, Asyahnaz tiba-tiba mendatangi rumah Mahfouzt di kediamannya tadi yaitu di Kampung Babakan Ciparay, RT 1 RW 6, Desa Rancakasumba, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung.

“Dia datang menemui orang tuanya untuk membuat E-KTP. Dia bilang ke orang tuanya kalau selama ini tinggal di Jakarta dan tidak mengetahui alamat jelasnya sehingga membuat E-KTP di rumah orang tuanya,” ucapnya.

Polda Jabar dibantu Polres setempat, kata Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono, untuk saat ini masih menyelidiki kebenaran identitas milik Asyahnaz tersebut.

Selain Asyahnaz, Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono juga memaparkan bahwa WNI yang diduga merupakan anggota ISIS yang ditangkap di Turki ini empat di antaranya adalah warga Kabupaten Ciamis, dan kesemuanya masih satu keluarga.

“Dari informasi awal keempat orang tersebut tercatat sebagai wrga Dusun Sindang, RT 02 RW 06, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, mereka ini satu keluarga. Suami, istri dan dua anaknya,” katanya.

Sementara dari data yang dihimpun oleh Kepolisian, Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono membeberkan keempat orang tersebut adalah Daeng Stanjah (Ayah), Ifah Sarifah (ibu), Ishak (anak ke 1), dan Aisyah Mujahidah (anak ke 2).

Awalnya, kata Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono, keluarga tersebut tinggal di luar Kabupaten Ciamis. Namun setiap Hari Raya Idul Fitri mereka selalu datang ke rumah orang tua Ifah yang berada di Dusun Sindang, RT 02 RW 06, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis. “Mereka baru membuat Kartu Keluarga dan menetap di Ciamis pada 22 September 2014 silam,” ucapnya.

Saat ini pun kata Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono o, pihaknya masih melakukan pendalaman dengan melakukan pemeriksaan terhadap kedua orang tua Ifah, yakni Sukirman (56) dan Karmi (49). Selain itu pihaknya juga masih melakukan kroscek terkait KK yang baru dibuat keluarga tersebut.

Seperti diketahui sejak Januari 2015 lalu pihak Kepolisian Turki di Provinsi Gaziantep, yang merupakan perbatasan Turki dan Syira menangkap 16 WNI yang terdiri dari 11 anak-anak, empat perempuan dan satu orang laki-laki. Mereka ditangkap saat hendak menuju Syria. Diduga 16 orang akan bergabung dengan kelompok radikal ISIS. 

Tanggapan Bupati Ciamis

Bupati Ciamis H. Iing Syam Arifin, mengaku pihaknya belum percaya bahwa 5 warga Kabupaten Ciamis yang ditangkap di perbatasan Turki- Suriah pekan lalu terlibat organisasi ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Pasalnya, hingga saat ini pihaknya belum mendapat data dan informasi valid terkait kabar tersebut.
“ Kita masih menunggu kelanjutan kabar dari Kementerian Luar Negeri, meskipun yang ditangkap sudah dipastikan mereka warga Ciamis. Karena, bicara soal benar atau tidaknya mereka terlibat ISIS, harus ada data pendukung yang valid dari institusi yang berwenang. Pasalnya, berbicara soal ini harus didukung dengan data secara akurat,” katanya, saat dihubungi HR Online, di Pendopo Bupati Ciamis, Senin (16/03/2015).

Bupati Ciamis mengatakan, meski benar 16 WNI tersebut terlibat gerakan ISIS di Suriah, namun belum bisa dipastikan juga bahwa mereka adalah warga Ciamis. “ Saya tadi malam melihat tayangan berita di stasiun TV swasta yang menyebutkan bahwa ada dugaan bahwa mereka yang ditangkap di Turki menggunakan identitas KTP orang lain sebagai strategi untuk menghilangkan jejak,” katanya.

Karena itu, lanjut Bupati Ciamis, untuk memastikan apakah mereka warga Ciamis atau bukan dan terlibat ISIS atau tidak, harus menunggu informasi dari Kemenlu RI. “ Namun, jika benar tentu kita akan melakukan langkah pembinaan dan mencegah warga lainnya agar tidak ikut terlibat dalam organisasi tersebut,” ujarnya.

Bupati Ciamis pun menghimbau peran ulama harus lebih ditonjolkan dalam menangkal aliran radikal di kalangan pemeluk agama Islam. Ulama, menurutnya, harus melakukan pembinaan dan penerangan kepada masyarakat agar orang yang mendalami ilmu agama tidak tersesat.

Hal senada pun dikatakan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ciamis, KH Koko Komarudin. Dia menilai sifat eksklusif bisa menyeret orang ke dalam jurang radikalisme. “Orang berkarakter radikal bisa jadi karena politik, ekonomi, budaya dan ideologi yang dia serap, termasuk pemahaman agama yang eksklusif tidak inklusif. Sehingga, mudah dimasuki paham radikal,” katanya, Senin (16/03/2015).

Seperti diberitakan sebelumnya, 5 dari 16 WNI yang ditangkap di Turki diketahui bernama Daeng Stanzah (31), Ifah (30), Is (6) dan  AM (5) merupakan warga Dusun Sindang Desa/Kecamatan Rancah dan Muhammad Ihsan (15) warga Dusun Cisaar Desa Kertahayu Kecamatan Pamarican.

Daeng Stanzah dan Ifah merupakan pasangan suami istri yang membawa serta kedua anak ke Turki, sementara Ihsan merupakan anak dari tokoh organisasi LDII. Ifah dan Ihsan sempat menimba ilmu di Ponpes Ibnu Masud di Bogor Jawa Barat, di mana suami Ifah berprofesi sebagai juru masak di pesantren itu. 

Kapolda Jabar juga memerintahkan agar setiap Polres segera mengambil tindakan tegas, apabila ditemukan adanya indikasi penyebaran faham ISIS "Ajaran ISIS saat ini sudah mulai berkembang di Cianjur untuk memusnahkan ajaran haram ini, setiap Polres diperintahkan untuk membasmi ajaran ISIS di Jawa Barat" Ungkap Kapolda Jabar, “ meski tidak ada tim khusus untuk menangani radikalisme, namun pihaknya intens melakukan operasi identitas di jalan raya dan patroli pengamana”, Beliaupun mengaku pihaknya sudah melakukan pemantauan di lokasi-lokasi yang terindikasi rawan penyebaran paham tersebut. Namun, jumlah dan titik kerawanan tersebut dirahasiakan agar tidak meresahkan masyarakat.( Ab@h**




Kamis, 12 Maret 2015

3 Mobil Terlibat Tabrakan, 3 Orang Luka-Luka

Sebuah mobil minibus Xenia ‘adu bagong’ atau bertabrakan dengan dua mobil Box di Jalan Raya Ciamis-Banjar atau tepatnya di Dusun Cimanggu RT 03/RW 09 Desa Cisaga, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Kamis (12/3/2015), sekitar pukul 12.00 WIB. Akibatnya, dari kejadian tersebut, tiga orang mengalami luka-luka.

Dari informasi yang dihimpun  di lapangan, kecelakaan bermula ketika mobil Xenia bernopol D 1437 YZ yang dikemudikan Asep Suryana (49) warga jalan Pluto RT 1/13 Bandung, datang dari arah Banjar membawa 6 penumpang tujuan Bandung dengan kecepatan tinggi.
Tepat di lokasi kejadian, mobil Xenia itu oleng dan menabrak dua mobil Box bernopol Z 8865 WJ yang dikemudikan Dodi (29) warga Cikoneng-Ciamis dan mobil Box bernopol E 8438 MF yang dikemudikan Rizal (32) warga Purwokerto,  yang datang dari arah berlawanan. Dalam tabrakan tersebut, mobil Xenia mengalami rusak parah di bagian kanan.
Rizal (32) sopir box nopol E 8438 MF yang membawa mesin teknik dari Cirebon ke Banjar mengatakan, dirinya sudah menghindari tabrakan tersebut, namun karena mobil Xenia itu menabrak mobil Box yang ada didepannya, maka mobilnya pun ikut kena tabrak.
“Dari arah Banjar, mobil Xenia itu sangat kencang, hingga memasuki tikungan. Mobil itu oleng dan menghantam mobil box didepan saya dan mobil box yang dikendarai saya,”ujarnya , Kamis (12/3/2015).
Hal yang sama pun diucapkan Asep Rebit (51) warga setempat. Menurutnya, saat dirinya sedang berada di rumah, tiba-tiba terdengar benturan keras di jalan. Ketika dilihat, ternyata ada kecelakaan lalu lintas.
“Benturannya terdengar sangat keras, hingga warga berhamburan ke jalan,”ujarnya.
Asep Rebit pun menambahkan, dirinya bersama warga lainnya menolong para penumpang minibus tersebut. Dari 7 penumpang minibus, 3 diantaranya mengalami luka-luka di kepala dan dilarikan ke RSUD Kota Banjar.

Peristiwa kecelakaan lalu lintas tersebut sempat memacetkan arus lalu lintas hingga satu kilometer. Selanjutnya kasus kecelakaan ini ditangani oleh Unit Laka Lantas Polres Ciamis. (Ab@h**/HR-Online)

Rabu, 11 Maret 2015

Puluhan Rumah Warga Rusak Diterjang Angin

Hujan lebat disertai angin kencang melanda wilayah Ciamis Selasa sore (10/3). Sejumlah rumah rusak dan beberapa pohon di pinggir jalan tumbang sekitar pukul 15.00. Setidaknya ada tiga kecamatan yang terkena dampak angin kencang, antara lain Kecamatan Sindangkasih, Kecamatan Ciamis dan Kecamatan Cijeungjing. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu tapi kerugian materi diperkirakan mencapaia ratusan juta.

Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Ciamis Ade Deni menuturkan, berdasarkan laporan yang di terima angin merusak 24 rumah di Dusun Cihurip RT 21 RW 07 Desa Sukamanah Kecamatan Sindangkasih. Tujuh diantaranya rusak berat dan 17 lainnya rusak ringan. Sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap.

Sedangkan di Jalan Raya Imbanagara Desa Imbanagara Kecamatan Ciamis satu pohon ketapang tumbang menutupi badan jalan. Beberapa kios dan atap rumah warga juga mengalami kerusakan. Antara lain atap bangunan barang bekas milik Sadam dan warung nasi milik Serka Nasrul.
“Pohon yang tumbang yang menghalangi jalan pertigaan Jalan raya Imbanagara sudah dibereskan oleh masyarakat, Dinas Ciptakarya dan anggota kepolisian Polres Ciamis,” ucapnya saat dihubungi kemarin.

Menurutnya pohon tumbang juga terdapat di Kelurahan Kertasari. Pohon manglid menimpa sebagian atap rumah milik Ateng Muttaqin dan Ani Roatini di Lingkungan Karang RT 03 RW 30 Kelurahan Ciamis. Rumah lain yang tertimpa pohon adalah milik Enung (40) di Lingkungan Rancapetir RT 03 RW 27 Kelurahan Ciamis.

Sementara di Kecamatan Cijeungjing pohon tumbang di beberapa titik. Antara lain di Dusun Sumur Bandung, Dusun Desa, Dusun Warungjati dan Dusun Babakan. Pohon yang tumbang antara lain pohon angsana, pohon petai dan albasiah. “Saat ini kita masih melakukan pendataan oleh anggota Tagana yang ada di lapangan,” jelasnya.


Terpisah, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Ciamis Dadang membenarkan adanya beberapa kejadian bencana alam pohon tumbang di beberapa wilayah di Kabupaten Ciamis. Pihaknya saat ini masih melakukan pendataan dan menunggu laporan dari tiap desa yang terkena angin kencang saat hujan lebat. (Ab@h**/RdrOnline)

Selasa, 10 Maret 2015

Pencarian Korban Hanyut Dihentikan Sementara

Memasuki hari kedua, pencarian siswa MTs Ciamis yang hanyut Mumu Zaenal Muttaqin belum membuahkan hasil. Tim SAR gabungan dari BPBD Ciamis, BPBD Banjar, SAR Ciamis, Sarpanthera, Basarnas, Tagana, PMI Ciamis-Banjar, Gamapala, TNI, Polres Ciamis dan warga belum menemukan petunjuk posisi Mumu. Proses pencarian akhirnya dihentikan sementara pukul 16.00.
Koordinator SAR gabungan Yayan menuturkan proses pencarian dilakukan dengan membagi tim menjadi lima. Tim menyisir Sungai Citanduy menggunakan delapan perahu karet. Pencarian dimulai dari lokasi pertama tenggelam di Dusun Ciawitali hingga memasuki wilayah Banjar dengan jarak sekitar 30 kilometer.
Tim pertama menyusuri sungai dari lokasi tenggelam hingga kawasan TPA Handapherang. Tim kedua, menyusuri sungai dari TPA Handapherang sampai Karangkamulyan dan tim ketiga menyusuri sungai dari Karangkamulyan sampai Kota Banjar. Sedangkan keempat menyusuri Sungai Citanduy dari Banjar sampai Langensari dan tim kelima menyusuri Citanduy dari Langensari sampai Bendungan Manganti.
“Teknis pencarian dengan penyapuan daerah, terutama yang diduga terdapat underhole (pusaran air bawah, Red) serta menginformasikan pencarian kepada penduduk pesisir sungai,” ungkap Yayan sebelum memulai pencarian kemarin (9/3/2015).
Dia menjelsaskan, proses pencarian akan terus dilakukan sampai tujuh hari dengan waktu hingga pukul 16.00 tiap harinya.

TEMAN-TEMAN DOA BERSAMA UNTUK MUMU

Sementara itu, ratusan siswa MTs Negeri Ciamis menggelar doa bersama di masjid sekolah kemarin. Mereka berharap Mumu segera ditemukan dalam keadaan selamat oleh tim pencari.
“Dengan doa bersama ini harapannya Mumu secepatnya ditemukan dalam keadaan selamat, kalaupun nanti tidak selamat semoga jasadnya segera ditemukan,” ujar Kepala MTs Negeri Ciamis Gunawan didampingi Wakasek Humas Ede Syahidin.
Menurut Ede Syahidin, Mumu merupakan siswa yang aktif dalam organisasi dan ekstrakurikuler di sekolah. Beberapa waktu lalu, Mumu juga sempat mewakili sekolah mengikuti olahraga cabang atletik lari dalam Porseni. 
“Kegiatan itu (liburan, di pinggir sungai, Red) di luar sekolah. Kebetulan hari Minggu, dan di sekolah juga tidak ada kegiatan,” jelasnya.
Mencegah kejadian serupa, Edi mengimbau semua anak didiknya mengisi hari liburan dengan tidak melakukan kegiatan berisiko. 
“Hari libur lebih baik digunakan untuk belajar di rumah atau membantu orang tua,” tandasnya.


Terpisah, Lili Karli (37), ayah Mumu mengaku telah mengikhlaskan anaknya tersebut. Meski begitu dia tetap berharap anaknya bisa ditemukan baik dalam keadaan selamat ataupun tidak. Sebelum hanyut Mumu sempat minta difoto kepada orang tuanya sebagai kenang-kenangan.
Di rumah Lili, tampak hadir anggota DPRD Ciamis H Wagino dan sejumlah PNS di lingkungan DPRD. Lili yang biasa disapa Pecel merupakan pedagang asongan yang sering mangkal di gedung dewan. Keluarga Mumu Jaenal Mutaqin (13), siswa MTs Ciamis yang tenggelam dan hanyut terbawa arus Sungai Citanduy berharap korban segera ditemukan oleh Tim Tagana yang kini tengah melakukan pencarian di sepanjang Sungai Citanduy.
“Saya ingin anak saya segera ditemukan, biar jasadnya bisa segera dikebumikan secara layak. Kasihan dia,” ungkap Lili, ayah korban, sembari meneteskan air mata, saat ditemui HR, Senin (9/3/2015).
Lili yang akrab disapa Pecel ini, mengatakan, semasa hidupnya, Mumu merupakan anak yang baik dan rajin mengaji. Bahkan, Mumu sering menjadi guru ngaji teman-temannya saat belajar mengaji di mesjid.

Pecel mengatakan, sebelum anaknya pergi ke Sungai Citanduy, dirinya sempat melarang karena aliran sungai saat ini tengah deras. “ Waktu itu saya sarankan agar acara ngaliwetnya di kolam milik saya yang tak jauh dari rumah. Tetapi, entah mengapa, dia malah nekad bersama temannya pergi ke Sungai Citanduy,” kata pedagang rokok di komplek DPRD Ciamis ini.

Pecel menambahkan, karena dikira anaknya menggelar acara ngaliwet bersama temannya di kolam miliknya, dia pun sempat mengontrol ke kolamnya. Betapa kagetnya, ketika dicek ke kolamnya, anaknya beserta temannya tidak ada di lokasi.
“Padahal, saya sudah mewanti-wanti agar jangan pergi ke sungai, karena arus tengah deras,” ujarnya dengan raut muka sedih dan kecewa.
Sekitar pukul 13.00 WIB, lanjut Pecel, ada teman anaknya datang ke rumahnya dan memberitahukan bahwa Mumu hanyut terbawa arus Sungai Citanduy. “Mendengar kabar itu, saya langsung lemas dan tidak percaya anak saya meninggal terbawa arus sungai,” katanya. ( Ab@h**/HR-Online)

Senin, 09 Maret 2015

Mayat Tanpa Busana Ditemukan di Kebun

Sesosok mayat berjenis kelamin perempuan ditemukan di kebun milik warga di Dusun Sukamulya RT 08 RW 04 Desa Tigaherang Kecamatan Rajadesa. Mayat tanpa identitas itu ditemukan tanpa mengenakan busana. Wajah mayat sudah hancur dan rambut rontok karena kepalanya telah membusuk.
Mayat itu ditemukan pertama kali oleh Enco (30) warga Dusun Ciburuy RT 03 RW 02 Desa Purwaraja Kecamatan Rajadesa sekitar pukul 08:30. Ketika itu Enco hendak mengambil singkong di kebunnya, tidak jauh dari lokasi mayat. Dia mencium bau busuk dari kebun yang dipenuhi pohon kopi dan kapol. “Lalu saya mencari sumber bau tersebut,” ungkap Enco kepada Radar, kemarin (8/3/2015).
Selang beberapa menit kemudian, dia menemukan mayat tergeletak dengan kondisi sudah membusuk. Saat ditemukan, posisi mayat dalam keadaan tergantung di tebing dengan leher terjepit pohon kopi. “Langsung saja saya nyari warga,” tuturnya.
Sementara itu, Kaur Umum Desa Tiga Herang Abdul Muhi mengaku dirinyalah yang pertama kali mendekati mayat tersebut dan langsung menghubungi pihak kepolisian.
“Jadi sopir saya yang bernama Ari lewat jalan ini, kemudian dia mencium bau busuk dan langsung menelpon saya, mendengar hal itu saya langsung meluncur ke sini,” kata Abdul.
Sebelum polsek datang, Abdul mengaku berinsiatif membuat garis pembatas menggunakan tali plastik yang ditemukan di sekitar tempat kejadian. Tujuannya agar tidak ada orang yang mendekati mayat tersebut. Ketika membuat garis pembatas itu, dia menemukan ikat pinggang berwarna krem dan botol air mineral 600 ml berisi air yang sudah berubah warna. “Ikat pinggang tersebut terletak 5 meter dari posisi mayat, sedangkan ikat pinggang terletak sekitar 20 meter,” jelasnya.
Sekitar pukul 12:00, tim Identifikasi Polres Ciamis datang ke lokasi melakukan evakuasi dan olah tempat kejadian perkara (TKP). Beberapa menit kemudian mayat tersebut dibawa ke RSUD Ciamis untuk penyidikan lebih lanjut. Kasusnya kini ditangani Polres Ciamis.
Kapolsek Rajadesa AKP Argono S.H, MM memperkirakan usia mayat tanpa identitas itu masih 19 tahun. Sedangkan mayat tersebut diperkirakan telah membusuk selama dua minggu. 
“Untuk sementara ini kami belum bisa menyimpulkan dugaan dan motif dari penemuan mayat ini,” kata dia.
Dari pantauan kami, ada luka seperti bekas sabetan benda tajam pada bagian kepala mayat. Tempat penemuan mayat jauh dari pemukiman warga. Menurut Abdul, wilayah tersebut jarang dilewati warga karena kondisinya sangat gelap ketika malam hari. Jarak rumah warga dari tempat kejadian sekitar 600 meter ke arah barat dan 300 meter ke arah timur.
Salah seorang warga Desa Andapraja, Yati, menemukan rok pramuka di pinggir jalan. “Beberapa hari ke belakang ada yang menemukan rok tersebut,” terangnya.

Soal identitas mayat, Abdul mengaku belum menerima laporan dari warga yang soal adanya kehilangan sanak saudara. 

PEMUDA BABAK BELUR DIHAJAR MASSA

Sementara itu pada hari Sabtu ( 7/3/2015 ) seorang pelaku pencuri kendaran bermotor (ranmor), babak belur pada bagian wajah serta tubuhnya karena dihakimi warga setelah tertangkap tangan mela­kukan aksinya.

Pada saat itu, pelaku me­ng­ambil sepeda motor KTM mi­lik Rusdiana ( 37), warga Du­sun Cikananga Desa Selacai Kec. Cipaku, yang sedang di­sim­­pan di pinggir jalan Blok Ci­wedus Dusun Cicanggong Desa Bang­bayang, sekitar pukul 12.30. Ketika itu, korban sedang men­cari “ koroto “ ( telur se­rang­­ga), di wilayah terse­but.Na­­­mun pas dirinya mau pu­lang sepeda motor yang disimpan dipinggir jalan tiba-tiba hilang.
Akibat kejadian tersebut, pe­laku Ranmor yang diketahui ber­nama Herdiana ( 23), warga Dusun Sukasari Desa Cin­ta­na­gara Kec. Jatinagar, kini harus dirawat di Puskesmas Cipaku karena mengalami luka cukup parah pada bagian muka serta pada bagian dada.

Menurut Rusdiana ( 37), me­milik sepeda motor, pada saat itu sepeda seperti biasa ketika se­dang mencari koroto, selalu disimpan di pinggir jalan masih tidak jauh dari tempat mencari koroto.
“ Ketika kami mengetahui motor telah tidak ada di tempat, kami langsung meng­hu­bungi saudara yang ada di Ci­kananga lewat Hp untuk ikut membantu mencari sepeda motor, “ jelasnya.
Sementara menurut Dana, yang merupakan adik korban, dirinya tidak sengaja ketika mau pergi ke Ciamis, tiba-tiba melihat sepeda moto milik ka­kaknya sedang diparkir di pinggir jalan di wilayah Dusun Bu­niasih. Cover motor memang sudh dicopot, tetapi bisa dikenali dari spartboardnya yang masih utuh.

Ia langsun berhenti dan memberitahukan kepada warga sekitar bahwa motor tersebut milik kakaknya.
yang hilang Ketika pelaku ditanya, awalnya pelaku tidak mau menga­kuinya.Namun setelah di­desak pelaku akhirnya menga­kui perbuatannya. Warga yang sudah kumpul langsung mengahajarnya hingga babak belur. Untung petugas kepolisian Sektor Cipaku yang sedang patroli dengan cepat mengamankan pelaku, untuk selanjutnya di amankan dan dirawat di puskesmas Cipaku.

Kapolsek Cipaku, AKP H. Asep Ishka,S.Ip,  membenarkan ada­nya insiden Curanmor Sabtu ( 7/3/2015). Kini pelaku masih dirawat di Puskesmas Cipaku, ka­rena kondisinya masih le­bam-lebam. Untuk mengetahui apa­kah pelaku melakukan aksi­nya sendirian atau ada re­kan lain, akan terus  kami kembangkan tungkasnya. (Ab@h**)

Minggu, 08 Maret 2015

Bripda Eka, polwan yang nyambi jadi tukang tambal ban

Kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan ternyata tidak membuat sosok gadis berparas manis ini putus asa. Meski ayahnya hanya seorang buruh tukang tambal ban, malah membuat Bripda Eka Yuli Andini (19) bersemangat dalam menempuh masa depan sebagai polwan.

Gadis lulusan SMK Negeri 2 Salatiga jurusan Teknik Komputer dan Jaringan ini, dengan mulus lolos tanpa uang sogokan menempuh pendidikan kepolisian Pusdik Binmas, Banyu Biru, Ambarawa, Jawa Tengah. Selain itu, selama menempuh masa pendidikan sebagai Sekolah Calon Bintara (Secaba), berhasil mengukir prestasi rangking tujuh dari 7.000 peserta lainnya saat pendidikan kepolisian se-Indonesia.

Meski, sudah dua bulan menjadi polwan, Bripda Eka, panggilan sehari-harinya tidak pernah lupa disela-sela kesibukannya sebagai abdi negara tetap membantu profesi ayahnya sebagai buruh tukang tambal ban di Jalan Veteran, Pasar Sapi RT 2 RW 6, Kota Salatiga, Jawa Tengah dan bengkel.

Di rumah kontrakan sekaligus bengkel yang hanya berukuran 6 X 6 meter ini Bripda Eka jika lepas piket di Mapolresta Salatiga, Bripda Eka membantu kesibukan orang tuanya melayani langganan tambal ban ayahnya. Kesibukannya ini dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah mulai SMP hingga SMK.

Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sabirin (49) dan Darwanti (40) ini awalnya sama sekali tidak terbayang dibenaknya untuk menjadi seorang Polwan. Padahal awalnya, Bripda Eka ingin bekerja di sebuah stasiun televisi besar berskala nasional. Makanya, dirinya mengambil jurusan Teknik Komputer dan Jaringan agar mahir dalam bidang editing gambar dan animasi di televisi atau bidang broadcasting.

"Orangtua saya nggak pernah mengarahkan. Saya awalnya pingin kerja di broadcast, bagian editing dan ahli animasi karena saya ingin bekerja di stasiun tv terkenal. Pernah membuat web dengan teman-teman. Suka saja ngedit video, ngedit foto pokoknya yang berbau desain grafis lah," ungkapnya Selasa (25/2) di RSUD Salatiga di Bangsal Kelas 3 Flamboyan, Kota Salatiga, Jawa Tengah menunggui ayahnya Sabirin yang sedang sakit.

Namun, menjelang kelulusan, Bripda Eka mendapat dorongan dari Mara Tilofashanti salah satu guru multimedia komputer di SMK Negeri 2 Salatiga yang saat itu ada sosialisasi penerimaan polwan dari Polresta Salatiga. Bripda Eka kemudian mencoba mengadu nasib dan keberuntungan mengikuti seleksi penerimaan Secaba Polri di Kota Semarang, Jawa Tengah.

"Sebelum jadi polwan. Awalnya aku sempat daftar salah satu perusahaan perkabelan automotif di PT Autocom di Subang, Jawa Barat. Saat itu tes tertulis dulu. Terus dapat panggilan ke Semarang untuk seleksi setelah tes kesehatan di Polri. Kemudian bebarengan, saya milih seleksi di Polri saja kemudian mengikuti tes kesehatan dan membatalkan untuk tes di PT Autocom. Ingin cepet kerja biar bisa bantu ayah dan tidak menambal ban terus," tutur gadis berkelahiran 30 Juli 1996 ini.

Bripda Eka sempat mengaku tidak percaya diri karena gadis berparas imut ini hanya memiliki tinggi badan 156 dengan berat hanya 48 saja. Namun, karena mendapat dorongan dari teman-teman sekolah, orangtua dan gurunya, akhirnya bersama 19 teman satu sekolahnya Bripda Eka mengikuti proses seleksi Secaba Polri.

"Ada teman-teman daftar sekitar sekelas lima sama saya. Kalau satu sekolah SMK Negeri 2 Salatiga ada sekitar 20 teman sama saya. Terus daftar, saya khan tinggi badan pas-pasan banget. Kok kayak tinggi badan ngepres. Di bujuk Bu Mara, udah gak papa ikut saja, tahun kemarin ada 7.000 polwan diterima. Kapan lagi ada kuota seperti itu. Eh, ternyata sekarang sudah jadi Polwan. Alhamdulillah saya jadi rangking tujuh selama pendidikan 1,5 bulan di Banyu Biru, Ambarawa," ungkapnya.

Meski telah berhasil menjadi anggota polwan, sosok Bripda Eka tetap menunjukkan kesederhanaannya. Bagaimana tidak, baju, celana dan sepatunya yang dikenakan baju tak bermerek. Kesantunan dan kepatuhan kepada kedua orangtuanya pun tetap dijaga.

Terbukti, saat menunggui ayahnya Sabirin yang sedang sakit paru-paru, dengan setia bersama ibu dan adik semata wayangnya Arjuna Dwi Bagaskara (16) yang saat ini juga duduk di bangku sekolah SMK Negeri 2 Salatiga seperti dirinya. Meski dirinya kini telah sibuk bertugas sementara di Unit Shabara Polresta Salatiga, Jawa Tengah.


Bengkel tambal ban sekaligus rumah yang ditinggali Bripda Eka Yuli Andini (19) bersama keluarganya terbilang kurang layak. Rumah yang terletak di Jalan Veteran, Pasar Sapi, Salatiga, ini hanya berukuran 6 x 6 meter. Dindingnya dari papan dan lantai plesteran menghitam akibat ceceran oli.

Di rumanya ada dua kamar berpintu gorden yang menjadi tempat istirahat Eka bersama adik dan kedua orangtuanya. Tidak ada ruang tamu atau ruang keluarga di sana. Kamar tidur tanpa ventilasi itu langsung berbatasan dengan ruang tamu yang penuh dengan peralatan bengkel dan onderdil kendaraan.

Rumah kontrakan Bripda Eka juga tidak mempunyai halaman. Teras berukuran 2 x 3 meter difungsikan sebagai tempat kerja ayahnya untuk menambal ban. Tempat itu langsung berbatasan dengan trotoar jalan raya.

"Rumah ini kontrak per tahunnya Rp 2 juta, kata ibu. Selama tinggal di sini, pernah kebanjiran tiga kali. Air saat itu meninggi selutut," kata Bripda Eka.

Orang Tuanya Pernah Kena Tipu

Memang, di rumah itu terlihat beberapa bagian atap rumah yang bocor. Kebetulan saat Kompas.com berkunjung ke sana, hujan turun sangat deras. Saat melongok ke atas, terlihat banyak kayu yang sudah lapuk dan beberapa genting ada yang melorot. "Kami pindah di sini tahun 2005. Saat itu, saya masih kelas III SD. Ceritanya kami ditipu," ujar Eka.

Menurut Eka, kedua orangtuanya, Sabirin (49) dan Darwanti (40), dulu mempunyai sebuah rumah di Kebonsari, Kalicacing, Salatiga. Rumah itu ditinggali bersama dengan kakek Eka. Namun, sepeninggal sang kakek, keluarga Sabirin terpaksa angkat kaki dari rumah itu lantaran ada pihak ketiga yang mengklaim memiliki rumah tersebut.

"Rumah kami sudah diambil orang karena kena tipu. Kata ibu, dulu rumah itu dibeli oleh Mbah (kakek). Tapi, sayangnya, karena orang zaman dulu, jual belinya antar-dua orang tidak pakai surat-surat. Saat kakek meninggal tahun 2005, kami diusir," kenang Eka.

Tidak terasa, hampir 10 tahun, Eka dan keluarganya menempati rumah kontrakan sekaligus tempat ayahnya mengais rezeki. Namun, kenangan akan rumah lamanya di Kebonsari masih teringat sampai sekarang. "Sampai-sampai, bapak menamai bengkel ini Bonsa. Itu diambil dari nama kampung kami dulu, Kebonsari," tutur Eka.

"Tapi, kami sudah ikhlaskan, insya Allah mau beli rumah kalau uangnya sudah cukup," kata Eka sambil tersenyum.

Kini, Eka hanya berharap dengan penghasilannya sebagai polisi, kondisi perekonomian keluarganya dapat terbantu. Sejak dua bulan bertugas menjadi anggota Sabhara Polresta Salatiga, Eka mengaku sudah sekali menerima gaji, yang seluruhnya diserahkan kepada sang ibu. "Belum lama ini terima, dirapel (dua bulan)," kata Eka lagi.

Bripda Eka memiliki cita-cita membelikan rumah untuk orang tuanya. Ia ingin keluarganya bisa tinggal di rumah yang lebih layak. Apalagi saat ini ayahnya kini terbaring sakit.
"Saya kalau sudah sukses mau beliin orang tua rumah. Soalnya rumah yang sekarang masih kontrak," kata Eka awal pekan ini.

Gadis ini memang dikenal giat di lingkungan rumahnya. Hal itu juga terlihat ketika baru saja pulang dari Mapolres Salatiga, ia bergegas ke kamar dan melepas seragam dan segera ke bengkel untuk membantu ibunya. Kebetulan saat Kami mengunjungi Bripda Eka, ada seorang lelaki yang ban motornya bocor, ia pun bergegas meladeni.


"Sebentar ya, mas," tutup Bripda Eka sambil meraih berbagai perkakas tambal ban.( Ab@h**/ detikcom)

Sabtu, 07 Maret 2015

Butuh Sarana Penyeberangan

Lalu lintas Ciamis kian padat. Rata-rata kendaraan yang melintas melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Salah satunya di Jalan Jenderal Sudirman, depan Polres Ciamis, dimana terdapat beberapa sekolah di dekatnya. Salah satunya SDN 2 Sindangrasa yang berseberangan dengan Mapolres Ciamis.

Kondisi lalu lintas yang padat dianggap membahayakan para pelajar yang setiap pagi dan siang menyeberang jalan. Guru SDN 2 Sindangrasa Endang Suyatman meminta pemerintah mulai memikirkan pembangunan jembatan penyeberangan untuk menjaga keselamatan pejalan kaki. “Tiap hari anak-anak itu nyeberang di jalur cepat, sehingga terancam keselamatanya. Saya khawatir bila tidak terpantau anak-anak nyeberang sendiri,” ujarnya kemarin (6/3/2015).

Dia mengaku setiap pagi selalu menyempatkan diri menyeberangkan anak didiknya. Juga setiap pukul 09.30 saat bubar anak-anak kelas 1, 2 dan pada pukul 12.10 menyeberangkan anak-anak kelas 4, 5 dan 6. Aktivitas seperti itu sudah dilakukan selama dua tahun. “Saya lakukan itu demi keselamatan anak-anak,” tuturnya.

Menurutnya, sebelumnya sudah hampir tujuh orang siswa SD keserempet mobil dan motor ketika menyeberang di jalur tersebut. Jumlah itu belum ditambah siswa dari sekolah lain yang sama-sama ada di jalur tersebut seperti SMKN 1 dan sekolah lain. “Sudah saatnya ada jembatan layang untuk penyeberangan para pelajar agar lebih nyaman,” ungkap Endang.

Dia mencontohkan Kota Banjar sudah memiliki jembatan penyeberangan untuk para pelajar. Sarana itu dinilai akan membuat pejalan kaki lebih aman dan nyaman. Ciamis dilalui jalur nasional yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sudah seharusnya memiliki jembatan penyeberangan untuk keselamatan pelajar dan pejalan kaki lain. “Sudah pantas ada jembatan layang guna keamanan anak-anak,” kata dia.


Yuyun (30), orang tua murid SDN 2 Sindangrasa mengaku sering merasa waswas ketika menanti anaknya pulang sekolah. Dia khawatir sang anak menyeberang sendiri di tengah padatnya kendaraan di Jalan Jenderal Sudirman. “Harapan saya juga ada jembatan layang agar lebih nyaman lagi anak menyeberang. Tidak khawatir akan ketabrak kendaraan,” singkat dia.(Ab@h ** / isr)

Jumat, 06 Maret 2015

SATU TON BERAS SATU JAM LUDES

Hanya dalam hitungan satu jam, beras murah langsung habis terjual pada Operasi Pasar Murni (OPM) yang digelar di Pasarmanis Ciamis, Kamis (5/3/2015). Bahkan banyak warga yang kecewa karena tidak sempat membeli beras kualitas medium yang harganya terbilang murah Rp. 7.400.
Seperti yang dikeluhkan Iis (43) warga Kelurahan Kertasari Kecamatan Ciamis yang datang sesaat setelah OPM beras selesai sekitar pukul 10.00 WIB. Ia kecewa karena jauh-jauh da­tang ke pasar dengan tergesa-gesa namun beras yang akan dibeli ternyata habis.
ìSaat melihat tetangga menjinjing keresek berisi beras, saya tanya beras dari mana. Para tetangga menjawab ada operasi beras murah Rp 7.400 di pasar. Saya langsung pergi ke pasar, namun terlambat, berasnya habis ujarnya.
Padahal saat OPM mulai digelar sekitar pukul 09.00, sebagian pengunjung pasar tampak ragu untuk membeli beras Bulog yang diangkut Truk Dal­mas Satpol PP tersebut. Bah­kan Tim OPM pun harus meng­­­gunakan pengeras suara (Megaphone) agar pengunjung pasar mau membeli beras OPM.
Beru setelah beras yang dikemas keresek hitam itu dilihat dan diraba para warga, mereka langsung membeli tanpa ragu.”Berasnya bagus , beruntung hari ini bisa ke pasar jadi bisa beli beras murah, namun hanya 5 kg. Kalau 10 kg, selisihnya lumayan buat keperluan lain,” ujar Dedeh Warga kelurahan Maleber.
OPM beras di kabupaten Ciamis kemarin tidak hanya digelar di Pasar Manis Ciamis, juga di Pasar Kecamata Ban­jarsari, Sindangkasih, Kawali dan Rancah. Pelaksanaan OPM yang direncakan pekan lalu melibatkan pedagang beras tersendat, karena para pedagang menolak. Pemkab Ciamis akhirnya mengelar OPM dengan membentuk Tim yang berasal dari Bagian Ekonomi Set­da, Diskoperindag, Bulog, dan Satpol PP.
Menurut , Wakil Kepala Bu­log Sub Divre Ciamis, Fitri Nur, beras OPM yang dijual di pasar manis Ciamis sebanya satu ton itu baru percobaan pada hari pertama. “ Tim baru menge­luar­kan satu ton untuk perco­baan dan akan dievaluasi lagi. Kalau ternyata OPM ini efektif menurunkan harga beras, akan dilanjutkan kembali sampai harga normal,” ujar Fitri.

Rela Menunggu

Untuk mendapatkan beras dengan harga murah, warga Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis harus menunggu sampai 5 jam lebih. Warga sangat antusias menyambut Oprasi Pasar Murah ( OPM) beras de­ngan harga Rp. 7.400. per kilo gram, yang diselengarakan oleh pihak Pemda Ciamis kerjasama dengan Kabulog, Kamis ( 5/3/2015).
Ratusan warga rela menunggu sejak pukul 07.00 Wib hingga pukul 11.00 Wib di halaman pendopo Kawali. Ny Iis, warga Dusun Banjarwaru Desa Ka­wali, mengaku sudah berada di halaman Pendopo Kawali sejak pukul 07.00 Wib bersama ratusan warga lainnya. Karena sesuai dengan ucapan panitia yang menyebutkan akan meng­gelar OPM sejak pukul 07.00 Wib.
“Takut kehabisan, jadi da­tang ke lokasi lebih awal. Na­mun ternyata pasar murah ba­ru digelar pukul 11.00 Wib,” katanya.
Ia mengharapkan situasi harga beras bisa segera normal kembali agar tidak tersiksa se­perti sekarang ini, harus antri berjam-jam untuk mendapatkan beras.
Camat Kawali, Hidayat Tau­pik, mengatakan, jumlah warga yang berminat membeli besar benar-benar di luar dugaan. Jumlahnya sangat banyak.
“Awalnya, kami hanya me­nyediakan beras itu sesui yang telah di ajukan pada bagian eko­nomi Pemda Ciamis seba­nyak 1 ton, untuk kapasitas ma­sing - masing warga hanya men­­dapatkan jatah 5 kg, tetapi berhubung warga yang datang di luar perdiksi, maka untuk mengantispasi terjadi hal yang tidak diinginkan kami langsung melakukan kordinasi lagi untuk ke Kawali jatahnya itu ditambah, dan alhamdulilah dari semula 1 ton jadi 5,2 ton, “ jelasnya.

Bulog Jamin Kualitas Beras OPM

Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) dan Bulog Sub Divre Ciamis menggelar Operasi Pasar Murah (OPM). OPM digelar di sejumlah wilayah seperti Pasar Ciamis, Kecamatan Sindangkasih, Kecamatan Rajadesa, Kecamatan Rancah, Kecamatan Banjarsari, Kecamatan Panumbangan dan Kecamatan Kawali. “Operasi pasar ini kami lakukan guna menekan harga beras di pasaran yang terus merangkak naik,” ujar Wakil Kepala Bulog Sub Divre Ciamis Fitri Nur kemarin (5/3/2015).
Fitri menjamin kualitas beras yang dijual dalam operasi pasar kemarin adalah kualitas bagus. Bulog bersedia mengganti, apabila warga menemukan beras yang dijual tidak layak konsumsi. Pelaksanaan OPM juga dijamin tidak akan mengganggu stok raskin.
“Kami memastikan pasokan raskin untuk enam kota dan kabupaten hingga bulan April mendatang dalam kondisi aman,” ungkapnya.
Operasi pasar berjalan lancar dengan kawalan kepolisian dan Satpol PP. Pembelian beras dalam operasi itu dibatasi. Satu orang hanya boleh membeli lima kilogram dengan harga Rp 7.400 per kilo. Hal itu dilakukan dengan menggunakan kupon. “Total beras untuak tujuh kecamatan ini sebanyak delapan ton,” tutur Fitri.

Unah (40), pembeli beras, menyambut baik pelaksanaan OPM. Setidaknya dia bisa membeli beras kualitas bagus dengan harga murah. Saat ini beras dengan kualitas sama di pasaran dijual dengan harga Rp 12.000 per kilogram. “Berasnya pun tidak terlalu buruk, murah lagi. Sering-sering saja OPM,” singkat warga Sindangkasih itu. (Ab@h**/KP-Rdr )